4.682 Ekor Babi di Sumut Mati Akibat Virus Hog Cholera

oleh -483 views
Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut Azhar Harahap didampingi Kepala Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, drh Mulkan Harahap saat memberikan keterangan kepada wartawan

garudaonline – Medan | Terkait ditemukannya ratusan bangkai babi yang mengambang di Sungai Bedera, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Selasa (5/11/2019), Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyebutkan kalau kematian hewan berkaki empat itu kuat dugaan karena terinfeksi virus hog cholera.

“Tapi kita tunggulah hasil laboratoriumnya ya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut Azhar Harahap didampingi Kepala Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, drh Mulkan Harahap, Rabu (6/11/2019).

Dia menyebutkan, hingga saat ini laporan yang diterima pihaknya mengenai penyebaran virus hog cholera pada ternak babi di Sumut sebanyak 4.682 ekor dan terjadi di 11 kabupaten/kota di Sumut. “Terus bertambah,” terangnya.

Sebelas kabupaten/kota itu di antaranya Deliserdang, Humbang Hasundutan, Dairi, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut sendiri telah mengambil langkah-langkah yaitu salah satunya langsung turun ke lokasi kabupaten/kota yang terkena wabah.

“Kabupaten/kota yang belum terkena wabah virus ini dilakukan monitoring sekaligus pengambilan-pengambilan sampel pada ternak babi yang ada di kabupaten/kota. Itu langsung kita bawa ke laboratorium dan hasilnya memang positif hog cholera.”

“Sedangkan langkah lainnya kita juga memberikan langkah-langkah penanganan dalam wabah ini termasuk memberikan vaksin oleh petugas pada ternak yang masih sehat,” jelasnya saat di wawancarai wartawan di Gedung Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut di Jalan Gatot Subroto Medan.

Tak hanya itu saja, Azhar yang didampingi Kabid Kesehatan Hewan, drh Mulkan Harahap juga sudah memberikan disinfektan pada peralatan-peralatan petugas dan masker juga lainnya dalam rangka memberikan sanitasi di kandang-kandang ternak babi yang ada.

Lalu imbauan yang dikeluarkan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi pada bupati dan wali kota di Sumut untuk menekan wabah ini salah satunya tidak membuang bangkai babi yang terinfeksi hog cholera sembarangan.

“Dilarang membuang ternak babi yang mati ke sungai atau ke hutan dan segera menguburnya. Kemudian melakukan perpindahan ternak babi dari satu tempat ke tempat lain yang bertujuan untuk tidak mempercepat penyebaran virus hog cholera ini. Karena virus ini begitu cepat dan menyebar melalui udara,” terangnya.

Begitupun, saat ini laporan mengenai ternak babi mulai menurun dan berkembangnya masih di 11 kabupaten/kota saja. Sejauh ini, sambungnya laporan akan ternak babi yang mati ini masih pada ternak-ternak masyarakat sedangkan untuk perusahaan peternakan belum ada yang terinfeksi.

Ia sendiri memastikan kalau, hog cholera tidak berbahaya bagi manusia. Virus ini hanya dikalangan babi tidak menular ke hewan ternak lainnya.

“Untuk hog cholera ini tidak berbahaya pada masyarakat dan penularannya hanya dari babi ke babi. Tidak menular ke ternak lain dan manusia. Bahkan dikonsumsi manusia juga tidak ada masalah,” tegasnya.

Ia berharap agar masyarakat tidak membuang bangkai babi yang terkena hog cholera ke sungai maupun di hutan. Pasalnya, virusnya nanti bisa menyebar ke terkena babi yang sehat.

“Virus ini menyebar lewat udara. Diharapkan masyarakat tidak membuang bangkainya ke sungai maupun hutan. Begitu juga bagi masyarakat yang memotong babi agar daranya jangan dibuang sembangan, harus ditanam,” jelas dia.

(cok)

Berikan Komentar