6 Bulan di Kandang Ayam, Sapto Alami Malnutrisi

oleh -337 views

garudaonline, Medan: Anak orangutan (Pongo Abelii) berhasil dievakuasi di kawasan Gampong Paya, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh. Orangutan yang diberi nama Sapto tersebut, dipelihara di kandang ayam oleh oknum pejabat salah satu instansi di Aceh.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre  (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo, mengatakan evakuasi orangutan berusia 2 tahun itu dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

“Pemiliknya menganggap orangutan makhluk yang lucu. Jadi pemiliknya membeli Sapto dari seorang warga di sana sekitar 6 bulan lalu. Jadi memang dari ladang dibelinya. Kemudian dibawa ke rumahnya,” ujar Panut, Rabu (23/1/2019)

Namun selama 6 bulan itu, Sapto mendapat perlakuan memprihatinkan. Satwa yang sangat terancam punah ini ditempatkan di sebuah kandang ayam bersebelahan dengan ayam yang dijual si pemilik. Karena, sang pemilik juga punya usaha ayam potong.

“Orangutan ini dirawat layaknya manusia. Makan nasi, lauk pauk,  hingga sisa makanan dari pemiliknya. Sehingga dia kekurangan nutrisi. Apalagi orangutan ini ditempatkan di kandang ayam,” terang Panut.

Mendapat informasi adanya warga yang memelihara hewan dilindungi, YOSL-OIC langsung bergerak bersama petugas BBKSDA dan Polres setempat. Pemilik sempat menolak saat Sapto disita. Belakangan pemiliknya bersedia menyerahkan Sapto asalkan diberi ganti rugi uang perawatan.

“Hal seperti ini memang kerap terjadi saat kita melakukan penyitaan. Setelah perbincangan panjang, akhirnya pemiliknya bersedia menyerahkan orangutan ini. Mereka mengira senang sekali memelihara orangutan. Dianggap lucu saat kecil,” pungkasnya.

Sapto akhirnya dibawa ke Medan meninggalkan kandang ayam yang dihuninya selama 6 bulan terakhir. Selama perjalanan tidak ada kendala apapun. Sapto diletakkan dalam box khusus. Meski malnutrisi, Sapto bisa bertahan dalam perjalanan.

“Dari analisis sementara lokasi ditemukan orangutan, memang dekat dengan habitatnya karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Nagan Raya. Dulunya kawasan tersebut adalah hutan gambut rawa tripa. Populasi orangutan di sana mencapai 3.000 ekor. Kini jumlahnya diprediksi tinggal 200 ekor lagi. Ada ekspansi sawit secara masif. Habitat orangutan tergusur,” ucap Panut.

Di tahun 2019, ancaman kepunahan terhadap orangutan kian meningkat. Bukaan hutan diprediksi akan semakin banyak sehingga mengancam habitat orangutan. Selama 2018, ada sembilan orangutan yang dievakuasi YOSL-OIC di Sumatera Utara. Baik yang korban konflik, ataupun sitaan.

“Memelihara orangutan berdampak buruk pada spesies mamalia itu. Dari banyak kasus, orangutan seakan asing dengan habitat aslinya karena terlalu lama dipelihara. Orangutan yang lama dipelihara, ketakutan saat dibawa ke konservasi. Kakinya gemetaran, malah lebih berani ketika berhadapan dengan manusia,” bebernya.

Terpisah, Zulhilmi, dokter hewan dari YOSL-OIC yang ikut dalam proses evakuasi mengatakan, Sapto akan ditempatkan di karantina The Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) di Batumbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang.

“Kita akan periksa kesehatannya secara panjang. Karena kondisinya malnutrisi. Asupan makanannya sangat sedikit. Tapi hasil pengamatan awal, anak orangutan jantan ini tampak normal pada bagian fisik luarnya. Tidak ada bekas luka di tubuhnya,” urainya. (dfnorris)

Berikan Komentar