Agar Terlihat Cantik, Afrika Barat Terapkan ‘Jadwal Penggemukan’ bagi Perempuan

oleh -182 views

garudaonline, Jakarta: Di saat banyak perempuan berusaha untuk mengurangi makan demi mendapat tubuh langsing dan terlihat cantik, maka beda cerita dengan para perempuan di Afrika Barat. Mereka justru berlomba-lomba terlihat cantik dengan menambah makan dan membuat tubuhnya lebih berisi.

Gadis-gadis di Afrika Barat tak akan mendapatkan suami jika mereka memiliki tubuh kurus. Demi tampil ‘cantik’ di mata pria, maka mereka dipaksa makan sebanyak 9 ribu kalori per hari saat ‘musim makan’. Tujuannya, agar perempuan ini memiliki tubuh yang berisi.

Tradisi ini juga disebut Leblouh di Mauritania, Sahara barat, dan Maroko selatan.

Para ibu menginginkan agar sang puteri memiliki tubuh subur sehingga mereka memaksa anak mereka makan meski perut sudah terasa sakit. Praktik ini diterapkan pada gadis berusia lima hingga 19 tahun.

Mone, gadis Mauritania berusia 11 tahun, memiliki indeks massa tubuh normal untuk anak seusianya. Namun ia menganggap dirinya kurang menarik.

“Saya ingin jadi gemuk, saya tidak ingin kurus. Kalau saya gemuk, saya akan jadi cantik,” ujarnya dikutip dari Daily mail.

Tahyeh, sang ibu sudah mempersiapkan makanan yang harus dikonsumsi Mone selama dua bulan di sebuah tenda. Menu sarapan berupa seliter susu unta manis, diikuti bubur dan kuskus dengan total kalori 3 ribu.

Setelah lebih dari satu jam istirahat, Mone harus makan siang dengan asupan sebanyak empat ribu kalori. Sedangkan untuk makan malam sebanyak dua ribu kalori. Total dalam sehari Mone dipaksa untuk menghabiskan 9 ribu kalori.

Jika bingung membayangkan sebanyak apa jumlah kalori ini maka, ini setara dengan 30 buah burger dan lima kali jumlah yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk anak seusia dirinya.

Selain Mone, Hendu juga menjalani hal serupa. Ibunda Hendu, Fatimatou, memastikan sang anak terus makan hingga habis.

“Jika dia menolak makan, saya akan memegang dia dengan erat agar mau makan dan membuatnya berhenti bermain bersama temannya. Kalau dia terlalu kuat saya akan ikat dia,” kata Fatimatou.

Saat kondisi makanan berlimpah, para keluarga tak menemui kesulitan untuk mempraktikkan tradisi ini. Namun jika makanan sedang sedikit, mereka ambil jalan pintas dengan memberikan obat penggemuk hewan.

Makan dalam jumlah kalori berlebihan seperti ini membawa risiko besar dalam hal kesehatan. Anak-anak ini berisiko menderita diabetes, penyakit jantung dan gagal ginjal.

Menurut Fatimata M’baye, pengacara hak anak-anak, tradisi leblouh berkaitan dengan perkawinan dini. Bahkan di daerah pedesaan, keluarga-keluarga memiliki ‘ternak penggemukan’ di mana perempuan-perempuan yang berusia tua akan mengumpulkan bahan makanan dan susu untuk program penggemukan.

“Penggemukan dilakukan selama libur sekolah atau saat musim hujan saat produksi susu berlimpah,” kata M’baye dikutip dari Guardian.

“Anak-anak dibawa keluar rumah tanpa tahu untuk apa. Anak menderita tetapi diberitahu bahwa menjadi gemuk akan membawa kebahagiaan untuknya.”

Proses cukup menyiksa apalagi melibatkan kekerasan dengan memukul paha anak dengan tongkat. Kesuksesan penggemukan akan terlihat saat anak berusia 12 tahun dan mencapai berat badan 80 kilogram.

“Jika anak muntah, ia harus minum muntahannya. Saat umur 15 tahun, dia akan tampak berusia 30 tahun,” imbuhnya. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar