Aksi ‘Ricuh’ 22 Mei, Warga Tak Kenal Massa Pelaku Kerusuhan

oleh -139 views

garudaonline, Jakarta: Bentrok massa aksi 22 Mei dengan aparat keamanan membuat sejumlah aktivitas warga terganggu. Hasan misalnya. Dia kesal karena gara-gara bentrok itu dia terjebak dan tak bisa pulang hingga Kamis (23/5).

“Semoga cepat selesai deh,” keluh Hasan saat berbincang dengan awak media di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Hasan bekerja di sebuah Rumah Makan yang terletak di jalan tersebut. Pada Rabu (22/5), Rumah makan itu, katanya sempat buka.

“Sebelum buka puasa, sampai buka. Buat layani orang-orang yang mau buka, tapi tutup lagi,” kata dia.

Hingga Kamis (23/5) dini hari, dia mengaku terjebak di Rumah Makan bersama seorang rekannya akibat bentrok yang tak kunjung usai di sepanjang Jalan Agus Salim, MH Thamrin, Wahid Hasyim hingga Jalan Sabang itu.

“Enggak bisa pulang, takut juga keluar dari restoran,” katanya yang mengaku tinggal di Jakarta Pusat itu.

Rumah makan tempatnya bekerja juga tak luput dari sasaran massa. Kaca depan restoran pecah terkena lemparan batu massa.

Hasan mengatakan selama 31 tahun bekerja di sekitar Jalan Sabang, tak satu pun massa yang dia kenal. Kata dia, itu massa yang wira-wiri, liar.

Bahkan, ia berani memastikan orang-orang yang terlibat bentrok dengan aparat kepolisian bukan warga setempat.

“Gue tinggal di sini sejak 1988, gue hafal orang-orang di sini,” kata Hasan.

Kerusuhan yang menjalar hingga ke Jalan Sabang berawal dari aksi massa yang menolak hasil Pemilu di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Kericuhan terjadi sejak Selasa (22/5) sore dan berlanjut hingga Rabu (23/5).

Kerusuhan di depan Gedung Bawaslu berlangsung dengan tensi yang naik turun. Sejak berlangsung hingga pukul 00.00 WIB, tensi kerusuhan terhitung naik sebanyak lima kali.

Suasana mencekam pada Rabu (22/5) pecah mulai sekitar pukul 18.20 WIB. Selepas maghrib, aparat mulai mengingatkan massa untuk bubar. Tapi, massa menolak. Aparat kemudian melepaskan gas air mata ke arah kerumunan massa. Kerusuhan itu berlangsung selama kurang lebih 40 menit.

Aparat terus meminta massa untuk membubarkan diri. Polisi juga terlihat sempat bernegosiasi dengan sejumlah perwakilan dari massa.

Namun, kerusuhan kembali terjadi pada pukul 20.12 WIB atau beberapa menit setelah Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon bersama anggota BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sempat berada di lokasi.

Dalam kerusuhan kedua ini, massa mulai menggunakan petasan dan kembang api. Tensi kerusuhan kian tinggi setelah massa mengarahkan petasan ke aparat yang berjaga dan membuat barikade.

Aparat merespons serangan massa tersebut dengan melepaskan gas air mata. Namun, respons aparat tersebut tak membuat massa pengunjuk rasa gentar.

Aksi mereka justru terlihat semakin berani, kali ini mereka melemparkan sejumlah botol berisi minyak dan dalam kondisi terbakar ke arah aparat.

Berbagai imbauan dan peringatan yang terus disampaikan oleh aparat kepolisian tidak mendapatkan respons positif dari massa. Hingga pukul 21.45 WIB, massa di depan Bawaslu masih terlihat anarkistis dengan melempari aparat keamanan Polri dan TNI dengan berbagai macam benda seperti batu, botol hingga petasan.

Polisi lantas mengerahkan mobil meriam air untuk memukul mundur massa yang tak kunjung membubarkan diri. Aparat akhirnya membubarkan massa dan menguasai seluruh area depan Gedung Bawaslu pada pulul 22.09 WIB.

Bentrok tak hanya terjadi di sekitar Bawaslu. Bentrok juga terjadi di Slipi, Jakarta Barat. Massa sempat membakar dua bus polisi di wilayah itu. Massa berusaha menguasai Jalan Brigjen Katamso, Jakarta Barat sejak Rabu pagi.

Warga sekitar juga mengaku geram dengan kerusuhan itu. Seorang tokoh masyarakat yang tinggal di Slipi Abdul Rohim tidak mengenal wajah-wajah orang yang terlibat bentrok. Kata Abdul, jika pun ada warganya, mungkin hanya sekadar melihat-lihat.

“Saya tidak pernah lihat wajah-wajah itu,” kata Abdul.

Ia menyayangkan insiden tersebut karena sudah membuat ricuh wilayahnya. Bahkan kata Abdul warga tak tenang dalam beribadah karena insiden kemarin.

“Bayangkan saja, masa kami lagi tarawih tiba-tiba cium gas air mata. Kan, tidak enak,” katanya.

Warga sempat membatasi gang rumahnya dengan bangku dan kayu. Mereka tidak ingin massa yang kabur memasuki permukiman warga.

Warga lain di Jalan Katamso yang tak ingin disebut namanya juga mengatakan hal senada. Ia tidak mengenal salah satu dari masa tersebut.

“Saya sama teman-teman tidak ada yang kenal. Malah tadi saya bilang sama mereka, berani masuk ribut sama warga sini,” katanya.

Sementara itu, sejumlah warga bersama aparat TNI menjaga keamanan di sekitar kawasan Petamburan, Jakarta pusat, Kamis (23/5) dini hari. Selain menjaga keamanan lingkungan, warga juga memanfaatkan untuk menunggu waktu sahur.

“Nanti waktu sahur baru balik ke rumah,” kata seorang warga.

Menurut warga setempat, masyarakat hanya ingin menjaga lingkungan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan sengaja memancing kericuhan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut bibit-bibit kerusuhan mulai muncul usai massa membubarkan diri secara damai setelah melakukan tarawih berjamaah pada 21 Mei.

Menurut versi kepolisian, benih kerusuhan muncul setelah ratusan pemuda mendatangi kembali lokasi unjuk rasa. Massa, menurut Tito, tidak menggelar aksi, melainkan memprovokasi aparat.

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan HAM Wiranto. Dia menyebut pelaku kerusuhan adalah preman bertato yang dibayar.

“Itu perusuh, bukan pendemo. Yang serang adalah preman bertato yang dibayar,” kata Wiranto saat konferensi pers. (CNN/dfn)

Berikan Komentar