Amankan Keuangan Agar Tak “Ngemis’ di Masa Pensiun

oleh -219 views

garudaonline, Jakarta: Setiap orang tentu ingin menikmati masa pensiun yang nyaman setelah bekerja puluhan tahun. Sebagian orang mungkin hanya ingin jalan-jalan, menggeluti hobi, bermain bersama cucu, dan hal-hal lain yang tidak lagi berhubungan dengan pekerjaan.

Guna mewujudkan impian tersebut, kecukupan dana mutlak diperlukan. Untuk itu, perlu perencanaan keuangan yang tepat sejak masih muda agar dana yang didapat selama bekerja tak habis tak berbekas dan dapat menunjang masa pensiun.

Berdasarkan hasil survei HSBC Holdings terhadap 1.050 responden di Tanah Air, hanya 30 persen penduduk di Indonesia yang sadar dan memiliki tabungan pensiun. Padahal, menurut grup perbankan yang bermarkas di London itu mencatat sekitar 68 persen responden menginginkan hidup nyaman ketika sudah jadi pensiunan.

Head of Wealth Management HSBC Indonesia Steven Suryana mengatakan survei juga menemukan bahwa sekitar 75 persen responden berharap mendapat dukungan dari anak ketika pensiun. Namun, pada kenyataannya hanya sekitar 24 persen di antaranya yang benar-benar mendapat sokongan dari anak.

Sementara sisanya, harus memenuhi kebutuhan hidup selama masa hari tua, seperti berwirausaha sekitar 54 persen, 25 persen bekerja lagi, 19 persen menggunakan tabungan, 7 persen menjual rumah, dan 4 persen berharap bantuan dari pemerintah.

“Untuk itu, masa pensiun perlu direncanakan dengan matang sedari dini agar semakin bisa mewujudkan mimpi menjadi ‘crazy rich retiree’. Sayangnya, kesadaran ini biasanya timbul saat sudah mendekati masa pensiun,” ucapnya, pertengahan pekan ini.

Senada, Head of Sales and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia Seteven Satya Yudha menilai masyarakat Indonesia memang harus segera sadar untuk menyiapkan dana pensiun. Dana itu, sambungnya, setidaknya perlu dicicil sejak 30 tahun sebelum masa pensiun.

Hitung-hitungannya, rata-rata masyarakat Indonesia mulai bekerja sejak usia 22-23 tahun, sementara masa pensiun umumnya dimulai sekitar usia 55 tahun. Selisih keduanya, sekitar 32-33 tahun. Selain karena masa kerja, perhitungan juga mempertimbangkan rata-rata masa pensiun sekitar 20-25 tahun merujuk pada rata-rata angka harapan hidup mencapai usia 75-80 tahun.

Dari sini, menurutnya, hal paling mudah yang bisa dilakukan masyarakat untuk masa pensiun adalah menabung, meski hal ini tak bisa memberi jaminan besar. Ia mencontohkan, seorang pekerja bisa menabung sekitar Rp5 juta per tahun untuk masa pensiun. Maka selama 30 tahun, tabungan hanya akan terkumpul Rp150 juta.

“Angka ini masih kerendahan karena ada potensi inflasi yang meningkatkan harga barang kebutuhan nanti. Maka, seharusnya tabungan ini jadi modal untuk bisa diinvestasikan, agar jumlah uang yang dikumpulkan lebih besar dari jumlah tabungan,” ujarnya.

Ia menyebut tabungan tak bisa di andalkan untuk memenuhi kebutuhan saat pensiun karena bakal tergerus inflasi. Untuk itu, sebaiknya dana yang ingin disimpan di bank untuk tujuan hari tua, sebaiknya ditempatkan di instrumen lain, seperti deposito.

Maka, mulailah pelajari bank mana yang memberikan bunga menarik untuk instrumen deposito. Saat ini, rata-rata bunga deposito yang ditawarkan berkisar 5-7 persen, sesuai jangka waktu simpanan.

Selanjutnya soal investasi. Menurutnya, investasi yang bisa dijadikan pilihan untuk kebutuhan pensiun, yaitu properti, asuransi melalui program dana pensiun, serta reksa dana dan saham. Reksa dana, menurut dia, dapat berbentuk pendapatan tetap, campuran, hingga saham.

“Tapi saya tidak sarankan investasi yang sifatnya konservatif, misalnya emas. Boleh investasi di situ, tapi harus diversifikasi agar hasilnya lebih terasa dan mendapat topangan risiko. Kalau memang orangnya cukup berani, tidak ada salahnya ambil reksadana saham,” terangnya.

Head of Vancassurance Allianz Indonesia Tahir Safuddin menambahkan jika tak ingin pusing memilah-milah instrumen investasi apa saja yang tepat untuk keburuhan hari tua, sebaiknya sisihkan alokasi dana hari tua pada instrumen asuransi.

Ia menjelaskan, keunggulan asuransi hari tua yakni memberikan jaminan perlindungan kesehatan hingga jaminan meninggal. Selain itu, ada tambahan perlindungan hari tua dan investasi. “Jadi tidak hanya lindungi diri, tapi juga bisa sambil investasi,” ungkapnya.

Setelah menyadari pentingnya menyiapkan dana pensiun dan mengetahui instrumen investasi yang cocok, lantas bagaimana mengatur strategi agar status ‘crazy rich retiree’ bisa benar-benar dikantongi?

Perencana Keuangan dari OneShildt Financial Planning Agustina Fitri mengatakan hal paling dasar yang bisa dilakukan untuk menyiapkan masa pensiun, yakni mendaftar program jaminan hari tua, seperti BPJS Ketenagakerjaan hingga program asuransi dana pensiun. Kemudian, pilih lah program yang mengambil premi secara autodebet dari rekening penghasilan.

“Ini hal paling mendasar, jadi kalau merasa belum bisa menabung atau tidak tahu mau investasi apa tapi ingin tetap punya dana pensiun, bisa dimulai dari sini. Meski tak bisa bergantung 100 persen dari sini,” ungkapnya.

Selanjutnya, bila komitmen menabung dana pensiun kian tinggi, tidak ada salahnya untuk menyisihkan gaji atau pendapatan lebih besar untuk pensiun. Misalnya, dalam 10 tahun pertama bekerja setidaknya harus menyisihkan gaji sekitar 10-20 persen per bulan untuk tabungan pensiun. Kemudian, pada 10 tahun berikutnya, dana itu meningkat sekitar 15-25 persen.

“Tapi kalau ternyata pada 10 tahun berikutnya pengeluaran justru meningkat karena membina keluarga, tidak masalah bila porsi tabungan pensiun tetap sama atau berkurang sedikit. Asal, tetap konsisten dan jangan ditunda,” terangnya.

Selanjutnya, ketika tabungan sudah ada, maka langkah berikutnya adalah memilih instrumen investasi. Tabungan, menurut dia, hanya ibarat modal awal untuk kemudian ditebar ke berbagai instrumen investasi.

Dalam menentukan instrumen investasi, Agustina mengatakan pertimbangan pertama adalah sesuaikan imbal hasil yang ditawarkan dengan inflasi. Ia mencontohkan, jika inflasi tahun ini diperkirakan sekitar 3,5 persen, bank biasanya akan menawarkan bunga deposito di kisaran 4,5 persen, sedangkan reksa dana pendapatan tetap di kisaran 6 persen.

“Maka pilihlah produk investasi yang return-nya bagus dan mengalahkan inflasi atau selisihnya lebih tinggi ketika dikurangi inflasi,” tuturnya.

Tak ketinggalan, ketika memilih instrumen investasi buatlah perencanaan dari sisi jangka waktu. Agustina mencontohkan untuk kebutuhan jangka waktu 3-6 bulan menaruh hasil tabungan di depostio. Lalu, untuk investasi berjangka 1 tahun ditaruh di reksadana. Sedangkan yang mencapai 3 tahun diletakkan di surat utang atau obligasi ritel pemerintah.

“Nanti hasil investasi di masing-masing instrumen ketika sudah cair bisa dilanjutkan atau ditaruh di instrumen-instrumen baru yang lebih menarik sesuai dengan perkembangan kondisi ekonomi, jadi jangan lupa pertimbangkan pula pergerakan ekonomi,” jelasnya.

Bila sepanjang masa awal bekerja tidak pernah ada sisa pendapatan untuk ditabung sebagai dana pensiun atau telat menyadari pentingnya dana pensiun, maka segeralah kendalikan pengeluaran. Lalu, gunakan sisa waktu yang ada sebelum masa pensiun benar-benar datang untuk berinvestasi.

Cara lain, dengan menambah kemampuan. Tujuannya, agar ketika masa pensiun sudah datang, namun dana belum cukup, setidaknya bisa kembali bekerja sebagai wirausaha untuk menutup kebutuhan. Misalnya, hobi memasak, maka bukan tidak mungkin untuk membuka kafe kecil-kecilan di hari tua.

Namun, tentu kemampuan memasak bukan kunci satu-satunya, dibutuhkan kemampuan manajemen pula. “Jadi beberapa tahun sebelum pensiun, tidak ada salahnya gali kemampuan lagi.Ikuti kelas-kelas singkat agar kalau mau buka usaha, usahanya bisa berjalan nanti, bukan malah jadi risiko karena tabungan pensiun habis digunakan untuk modal usaha,” pungkasnya. (CNN/dfn)

Berikan Komentar