Bunuh Adik Ipar, Jaksa Nilai Kompol Fahrizal Alami Gangguan Jiwa

oleh -517 views

garudaonline – Medan | Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan Kompol Fahrizal, mantan Wakapolres Lombok Tengah terbukti bersalah menembak mati adik iparnya Jumingan.

Namun menurut JPU, Fahrizal tidak dapat diminta pertanggungjwaban pidana karena mengalami gangguan kejiwaan.

Hal itu disampaikan JPU dalam tuntutannya yang dibacakan di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai Deson Togatorop, Senin (21/1/2019). Sidang itu dihadiri terdakwa Kompol Fahrizal, dan tim penasehat hukumnya.

Namun usai persidangan yang berlangsung singkat itu, JPU Randi Tambunan menolak mengomentari tuntutan yang dijatuhkannya. Sedangkan Kompol Fahrizal langsung dibawa dengan mobil Fortuner meninggalkan gedung PN Medan.

“Intinya terbukti melanggar Pasal 338 KUHP tapi terhadap terdakwa tidak dapat diminta pertanggungjwaban pidana karena pada saat kejadian, kondisi kejiwaan terdakwa terganggu. Jadi sesuai dengan ketentuan Pasal 44 KUHP jika terdakwa mengalami gangguan jiwa dia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana,” kata Julhisman, tim penasehat hukum terdakwa

Tim penasehat hukum, lanjut Julisman mengapreasiasi tuntutan yang dibacakan oleh JPU Randi Tambunan ini. Pasalnya hal ini kata Julisman sesuai dengan fakta persidangan.

“Faktanya pada saat penembakan, terdakwa sedang mengalami gangguan kejiwaa sesuai keterangan dokter Rumah Sakit Jiwa M Ildrem. Jaksa sepertinya mengajukan tuntutan berdasarkan keterangan ahli kejiwaan itu,” terangnya.

Meski tuntutan yang diajukan sudah sesuai fakta persidangan, namun Julisman mengaku timnya akan tetap mengajukan pembelaan pada persidangan sepekan mendatang.  “Kami akan serahkan putusanya pada majelis hakim,” sebutnya.

Seperti diberitakan, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan, di rumah orangtuanya di Jalan Tirtosari Gang Keluarga, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Sumut, Rabu 4 April 2018 sekira pukul 19.30 wib malam.

Kompol Fahrizal meletuskan tembakan sebanyak enam kali hingga korban tewas bersimbah darah. Jasad Jumingan kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk otopsi. Kemudian Fahrizal menyerahkan diri ke Polda Sumut.

Sebelumnya, penasihat hukum menolak dakwaan dan menyatakan perwira menengah itu mengalami gangguan jiwa sejak 2014. Dia bahkan beberapa kali dibawa berobat ke Klinik Utama Bina Atma di Jalan HOS Cokroaminoto, Medan.

Fahrizal pernah menjabat Wakapolres Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sebelumnya dia menduduki sejumlah posisi di jajaran Polda Sumut, seperti Kasat Reskrim Polres Asahan, Kasat Reskrim Polres Labuhan Batu, Kasat Reskrim Polresta Medan, kemudian menjadi Wakasat Reskrim Polrestabes Medan, sebelum akhirnya menempuh pendidikan Sespim.

(dfnorris)

Berikan Komentar