Autisme Bukan Hambatan untuk Menjadi yang Terdepan, Simak Kisah Joshua Beckford

oleh -380 views

Joshua Beckford, bocah dengan autisme yang masuk Oxford University saat usianya masih 6 tahun.

garudaonline, Jakarta: ‘Di balik kekurangan, tersimpan kelebihan,’ Kata-kata itulah yang tampaknya pantas disematkan kepada Joshua Beckford, bocah dengan autisme yang berhasil menjadi mahasiswa Oxford University, saat usianya baru genap 6 tahun.

Ayah Beckford, Knox Daniel, menemukan kemampuan belajar anaknya yang unik saat usia anaknya masih 10 bulan. Kala itu, Beckford tengah duduk di pangkuannya dan memainkan sebuah komputer.

“Saya mulai memberi tahu Joshua huruf-huruf di keyboard itu dan saya menyadari bahwa dia mengingat dan dapat mengerti. Jadi, jika saya mengatakan kepadanya untuk menunjukkan sebuah huruf, dia bisa melakukannya. Kemudian kami beralih ke warna,” ujar Daniel dalam sebuah video wawancara London Live.

Di usia tiga tahun, Beckford mampu membaca dengan lancar. Bahkan ia juga telah menguasai bahasa Jepang.

“Sejak usia empat tahun, saya menggunakan laptop ayah saya yang di dalamnya terdapat aplikasi simulator tubuh,” ujar Beckford.

Saat Beckford memasuki usia 6 tahun, ayahnya mengetahui ada program di Oxford University yang khusus ditujukan untuk anak-anak berusia antara delapan dan tiga belas tahun. Akhirnya Daniel mendaftarkan anaknya ke Oxford dan berharap mendapat izin masuk meski anaknya lebih muda dari usia yang telah ditentukan untuk program tersebut. Beruntung, dia diberi kesempatan untuk mendaftar, sekaligus menjadi siswa termuda yang pernah diterima.

Di sana, Beckford mempelajari filsafat dan sejarah dan lulus dengan sangat baik. Sarjana muda yang kini berusia 13 tahun itu juga unggul dalam bidang sains, matematika, sejarah, dan bahasa asing, termasuk Jepang, China, Prancis, dan Jerman.

Dari berbagai bidang yang ia minati dan kuasai, Beckford punya keinginan untuk menjadi astronaut. Selama masa studinya, ia juga memiliki minat yang kuat terhadap urusan Mesir. Perhatiannya itu dia tuangkan dengan menulis buku anak-anak tentang Mesir.

Bukan hanya itu, Beckford juga menjadi wajah kampanye Black and Minority (BME). Dia membantu menyebarkan misi kampanye dengan menyoroti hambatan yang dihadapi orang kulit hitam, ketika mencoba mendapatkan akses dukungan dan layanan autisme.

Ia juga melakukan penggalangan dana untuk tiga badan amal autisme, dua di Afrika dan satu di Inggris. Beckford lantang dalam melakukan kampanye untuk menyelamatkan lingkungan. Dan baru-baru ini dia telah melahirkan sebuah puisi dengan judul “Saving Mother Earth” di Konferensi International TEDx di Wina.

Kini, dalam dua tahun ke depan, bocah asal Tottenham itu sedang mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter spesialis bedah saraf. Atas berbagai prestasinya, kecerdasan luar biasa yang dimiliki Beckford ini telah diakui secara internasional. Bahkan ia masuk ke dalam daftar orang terpintar di dunia.

“Aku ingin menyelamatkan bumi. Aku Ingin mengubah dunia dan mengubah ide orang untuk melakukan hal yang benar tentang bumi,” ujar Beckford ihwal rencana di masa depannya. (imd/dfn)

Berikan Komentar