Belum Stabil, Sore Ini Rupiah Turun ke Posisi Rp14.278

oleh -18 views

garudaonline, Jakarta: Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.278 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (14/3) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,09 persen dibanding penutupan pada Rabu (13/3) sore, yakni Rp14.265 per dolar AS.

Meski begitu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.253 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin, yakni Rp14.269 per dolar AS. Adapun, rupiah diperdagangkan di rentang Rp14.240 hingga Rp14.280 per dolar AS pada hari ini.

Sore hari ini, beberapa mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat mengalami pelemahan terbesar, yakni 0,46 persen. Disusul oleh baht Thailand yang melemah 0,38 persen, won Korea Selatan sebesar 0,19 persen, dolar Singapura sebesar 0,18 persen, dan yuan China sebesar 0,15 persen.

Kemudian, pelemahan juga melanda rupee India dengan besaran 0,05 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,02 persen. Kali ini, penguatan hanya terjadi pada peso Filipina yakni 0,2 persen.

Pelemahan nilai tukar juga terjadi di mata uang negara maju, seperti poundsterling Inggris sebesar 0,24 persen dan dolar Australia yakni 0,42 persen. Euro sendiri terpantau tak bergeming melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini masih didominasi oleh sentimen eksternal, utamanya dari Inggris dan China.

Dari Inggris, pengaruh negatif berembus setelah parlemen Inggris menolak meninggalkan Uni Eropa tanpa perjanjian kompensasi (no-deal Brexit). Di dalam pemungutan suara yang berlangsung Rabu (13/3) malam, 312 anggota parlemen menolak no-deal Brexit, atau lebih tinggi dari pemilih no-deal sebanyak 308 suara.

Oleh karenanya, pelaku pasar menunggu pemungutan suara terkait Brexit yang ketiga kalinya pada hari ini untuk menentukan apakah Inggris tetap keluar Uni Eropa 29 Maret mendatang atau memperpanjang tenggat waktu tersebut.

Sementara dari China, sentimen negatif datang setelah pertumbuhan output manufaktur China mencatat perlambatan terparah dalam 17 tahun terakhir. Ini bikin ketar-ketir investor akan perlambatan ekonomi global, sehingga tidak berani berinvestasi di aset berisiko, termasuk rupiah.

“Semalam, Departemen Tenaga Kerja China mengatakan indeks harga produsen untuk permintaan akhir meningkat 0,1 persen pada bulan lalu. Tetapi, China merindukan perkiraan ekonom demi kenaikan 0,2 persen,” jelas Ibrahim, Kamis (14/3).

Di sisi lain, harga minyak mentah juga kian menanjak setelah pemerintah AS memotong ekspor minyak Iran sebesar 20 persen mulai Mei mendatang. Sentimen ini akan memberatkan Indonesia sebagai importir minyak, karena permintaan dolar di masa depan akan meningkat.

“Ini akan berpengaruh terhadap membengkaknya neraca perdagangan Indonesia karena impor BBM dengan sendirinya akan lebih mahal dan membutuhkan dolar yang cukup besar,” tandasnya. (CNN/dfn)

Berikan Komentar