Bertengger di Posisi Rp14.178, Rupiah Pimpin Penguatan Mata Uang Asia

oleh -144 views

garudaonline, Jakarta: Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.178 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot Senin pagi (7/1). Posisi ini menguat 92 poin atau 0,65 persen dari akhir pekan, Jumat (4/1) di Rp14.270 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah tetap perkasa memimpin penguatan mata uang. Diikuti won Korea Selatan yang menguat 0,52 persen, ringgit Malaysia 0,3 persen, peso Filipina 0,19 persen, yen Jepang 0,03 persen, dolar Singapura 0,02 persen, dolar Hong Kong 0,02 persen, dan baht Thailand 0,01 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas bersandar di zona hijau. Dolar Australia menguat 0,02 persen, poundsterling Inggris 0,11 persen, euro Eropa 0,13 persen, dan franc Swiss 0,24 persen. Namun, rubel Rusia dan dolar Kanada melemah, masing-masing 0,38 persen dan 0,01 persen dari dolar AS.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.332-14.365 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Hal ini lantaran sentimen dari dalam negeri cukup positif, seperti fundamental ekonomi dan pernyataan Bank Indonesia (BI).

“Kondisi di dalam negeri cukup kondusif, terutama setelah BI kembali menegaskan akan tetap mengarahkan kebijakan moneter untuk lebih prostabilitas demi menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah,” ujarnya dalam riset, Senin (7/1).

Tak hanya itu, kondisi dari luar negeri juga masih memberi sentimen positif bagi rupiah. Salah satunya, pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang memastikan tidak akan mundur dari kursi bank sentral AS sekalipun Presiden AS Donald Trump mendesaknya.

Sebelumnya, Trump memang sempat melontarkan pernyataan ingin memecat Powell karena kebijakan yang diambilnya tidak sejalan dengan semangat mendorong pertumbuhan ekonomi AS ala Trump.

“Rupiah masih ada kesempatan untuk bergerak positif, apaagi jika kondisi global cukup mendukung dengan pelemahan dolar AS seiring merespons pernyataan The Fed tersebut,” katanya. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar