BI Proyeksi di Kuartal IV Neraca Masih Defisit US$8 miliar

oleh -182 views

garudaonline, Jakarta: Bank Indonesia (BI) memproyeksi transaksi berjalan hingga pada kuartal IV 2018 masih akan defisit US$8 miliar. Dengan demikian, secara total, transaksi berjalan hingga akhir 2018 diprediksi akan mencapai US$30,41 miliar atau melesat 75,67 persen dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya US$17,31 miliar.

Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tren defisit transaksi berjalan mulai menunjukkan penurunan. Jika pada kuartal III kemarin defisit transaksi berjalan mencapai US$8,8 miliar, maka pada kuartal IV nilainya menurun jadi US$8 miliar.

“Jadi memang suasana di kuartal IV sudah mulai berbalik arah untuk defisit transaksi berjalan,” ujarnya, Rabu (30/1).

Hanya saja, ia tak menyebut komponen apa saja yang meringankan beban defisit transaksi berjalan pada kuartal kemarin. Sebab, diketahui neraca perdagangan sepanjang kuartal IV mencatat defisit US$4,46 miliar atau membengkak dibanding kuartal III yang sebesar US$2,64 miliar. Sehingga, ada kemungkinan perbaikan di komponen neraca pendapatan primer.

Mengambil asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun lalu yang mencapai US$1,06 triliun berdasarkan asumsi petumbuhan ekonomi pemerintah, yakni 5,17 persen, perhitungan menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan di akhir tahun 2018 diperkirakan mencapai 2,85 persen dari PDB.

Karena defisit transaksi berjalan diprediksi di bawah 3 persen dari PDB, Perry menyebut masyarakat tak perlu berpolemik soal ini.

“Defisit transaksi berjalan di Indonesia memang seharusnya tidak melebihi 3 persen dari PDB. Wajar jika negara Indonesia ini ada defisit transaksi berjalan, tapi jangan gede-gede. Pastikan itu produktif,” imbuh dia.

Jika defisit transaksi berjalan masih defisit, Perry malah meramal neraca modal dan finansial akan mencatat surplus hingga US$12 miliar sepanjang kuartal IV. Hasilnya, neraca pembayaran di kuartal IV akan surplus di kisaran US$4 miliar – US$5 miliar.

“Ini karena ada inflow (aliran modal masuk) sebanyak US$12 miliar pada kuartal IV lalu. Ini juga menjadi salah satu faktor mengapa pada kuartal IV rupiah menguat begitu agresif,” pungkasnya. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar