Bulog Gagal Ekspor Beras Karena Harga Kemahalan

oleh -186 views

garudaonline, Jakarta: Perum Bulog mengaku gagal melakukan ekspor beras pada tahun ini. Hal ini terjadi karena harga jual beras yang ditawarkan lebih tinggi dari harga di pasar internasional.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso (Buwas) menjelaskan kegagalan ekspor terjadi karena beras dari Indonesia dibanderol dengan harga di kisaran Rp8.000 per kilogram (kg). Padahal, harga beras di pasar internasional hanya sekitar Rp6.200 per kg.

Dengan demikian, beras dari Tanah Air lebih mahal sekitar Rp1.800 per kg dibandingkan beras yang berasal dari negara-negara lain. “Jadi tidak mungkin bersaing, patokannya kalau ekspor pasti harus harga internasional,” ungkapnya di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (4/7).

Kendati begitu, menurut Buwas, begitu ia akrab disapa, tidak ada masalah lain yang menjegal peluang ekspor beras Indonesia. Sebab, dari sisi mutu sejatinya relatif sama dengan beberapa negara lain.

“Kualitas sih sama, tapi cost-nya tinggi, soalnya kan konvensional (pengolahan beras di dalam negeri),” terangnya.

Untuk itu, menurutnya, ia akan mencoba bicara dengan pihak-pihak lain, misalnya Kementerian Pertanian, agar bisa menekan harga produksi beras domestik. Tujuannya, untuk menanggulangi harga jual beras yang terlalu tinggi dari pasar internasional.

Di sisi lain, Buwas mengatakan tetap punya alternatif lain untuk menjual beras Indonesia ke pasar dunia. Misalnya, dengan mengolahnya menjadi tepung beras lalu baru dijual ke negara yang membutuhkan, seperti Filipina dan Papua Nugini.

“Saya rasa ini bisa karena banyak negara yang membutuhkan (tepung beras). Maka bisa produksi jadi, mengolah itu saja,” katanya.

Namun, lantaran persoalan produksi bukan menjadi kewenangan Bulog, maka Buwas mengaku bakal segera mengomunikasikan ide ini ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

Sebelumnya, Bulog berencana melakukan ekspor beras ke sejumlah negara, salah satunya Malaysia. Ekspor dilakukan karena Bulog memiliki pasokan berlimpah yang membuat gudang-gudang perusahaan penuh. Sayang, rencana ekspor itu gagal.

Pasokan Aman

Di sisi lain, Buwas menegaskan pasokan beras aman hingga akhir tahun ini, meski pihaknya harus mengeluarkan beras untuk program penugasan pemerintah. Pasalnya, Bulog masih akan menyerap hasil panen petani di tengah tahun.

Ia memperkirakan pihaknya akan menyerap 1,8 juta ton beras pada tahun ini. “Penyerapan akan sebanyak-banyaknya (dari petani lokal). Stok akan bergerak, aman. Kami masih ada sebagian yang komersil,” terang dia.

Bahkan, menurut dia, Bulog bisa juga memperbanyak pasokan beras dari penyerapan gabah. Namun, ia belum bisa mengestimasi berapa sekiranya potensi penyerapan gabah.

Bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan beras Bulog dari penugasan, Buwas mengatakan rencana pelepasan pasokan sebanyak 1 juta ton beras yang pernah diucapkannya tidak akan dilakukan. Pasalnya, beras tersebut jelas diperuntukkan untuk program BPNT.(CNN/dfn)

Berikan Komentar