Calon Pendeta di Oki Diperkosa Lalu Dibunuh, Pelaku Masih Buron

oleh -495 views

garudaonline, Sumsel:

Pemerkosaan berujung pembunuhan terhadap seorang calon pendeta terjadi di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Melindawati Zidoni (24) ditemukan tewas tanpa busana oleh warga di kebun sawit PT Persada Sawit Mas (PSM), OKI Selasa (26/3) pagi.

Melinda merupakan calon pendeta yang bertugas di Sungai Baung, Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI. Polisi menyebut wanita itu lebih dulu mengalami pemerkosaan sebelum dibunuh. Polisi masih mengejar pelaku.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) OKI, Ajun Komisaris Besar (AKB) Donny Eka Syaputra menyebut pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pemeriksaan saksi segera dilakukan.

“Jenazah dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk autopsi,” ujar Donny, Selasa (26/3).

Donny menjelaskan, peristiwa bermula saat korban bersama seorang saksi, NPR (9) pergi ke pasar menggunakan sepeda motor, Senin (25/3) sekitar pukul 17.00. Namun saat hendak pulang, jalan setapak yang hendak dilalui terhalang oleh balok kayu.

Saat korban turun untuk menyingkirkan balok kayu tersebut, datang dua pelaku berpenutup wajah menghampiri korban.

“Dua pelaku menyeret Melinda dan NPR ke kebun sawit kemudian dicekik dan tangan diikat. NPR pingsan dan dibuang ke semak-semak. Sementara korban Melinda diduga diperkosa dulu sebelum tewas dicekik,” ujar Donny.

Jenazah ditemukan oleh warga yang mencari keberadaan keduanya sejak pukul 22.00 WIB. Korban diduga diperkosa terlebih dahulu sebelum dibunuh karena ditemukan dalam kondisi tanpa busana.

“Sedangkan NPR mengalami trauma dan luka memar di leher bekas cekikan. Pelakunya masih dalam penyelidikan,” ujar dia.

Menikah pada Juni

Melinda diketahui tengah merencanakan pernikahannya pada Juni 2019. Hal tersebut diungkapkan Arisman Manai, rekan sesama vikaris di Gereka Kristen Injili Indonesia (GKKI) saat ditemui di Instalasi Forensik RS Bhayangkara Palembang, Selasa (26/3).

“Dia bilang memang mau nikah bulan enam sama tunangannya di Nias,” ujar Arisman.

Arisman mengatakan Melinda sudah enam bulan menjalani ikatan dinas sebagai vikaris usai lulus kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Palembang (STTIP) pada Juni 2018. Arisman menyebut Melindawati sempat ingin meminta izin pada bulan Juni mendatang untuk melangsungkan pernikahan bersama tunangannya di Nias Selatan, Sumatera Utara.

Arisman menjelaskan, sebelum kejadian. Melinda dan NPR Pernawan (9), murid Melinda, pergi ke Pasar Jeti. Namun hingga malam keduanya tak kunjung pulang hingga membuat seluruh penghuni gereja cemas.

“Biasanya jam 5 sudah pulang, kami cemas makanya kami cari,” ujar Arisman.

Pada pukul 23.00 WIB, NPR pulang ke gereja seorang diri dalam kondisi ketakutan dengan tubuh penuh luka.

“NPR mengaku mereka dirampok dan diikat orang. Langsung kami cari dan menemukan Melinda sudah tewas. Kondisinya tidak memakai baju,” ujarnya.

Sementara itu, Anugrah Gaurifa (25), keluarga korban membenarkan bahwa sepupunya tersebut hendak menikah dalam waktu dekat.

“Memang mau menikah sama tunangannya. Dia [Melinda] sudah 5 tahun di Palembang kuliah disini. Kalau tugas baru enam bulan,” kata Anugrah.

Sementara itu Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan, Komisaris Besar Supriadi memastikan jajarannya mengusut kasus ini hingga tuntas. Pemeriksaan saksi NPR, kata dia, menunggu kondisi stabil.

“Kita tunggu dulu kondisi saksi stabil, apalagi masih anak-anak, sangat rentan,” ujar dia (CNN/dfn)

Berikan Komentar