Cinta, dan Serba-serbi Patah Hati

oleh -291 views

garudaonline, Medan: Selepas rasa sedih karena patah hati atau hubungan yang tak berjalan baik bisa begitu rumit. Kita tahu kenyataannya dia tak bisa dimiliki, aliran dukungan tak henti dari sahabat dan keluarga bahkan pekerjaan pun cukup mengalihkan lamunan. Namun kenyataannya memang tak mudah.

Dilansir dari Psychology Today, Elizabeth Kubler-Ross, psikiatri berdarah Swiss-Amerika, menuliskan temuan tentang tahapan kedukaan yang dialami mereka yang kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya. Namun temuan yang ditulis dalam buku ‘On Death and Dying’ (1969) ini juga berlaku bagi kedukaan karena hubungan yang telah berakhir. Berikut tahapannya.

1. Denial (penolakan)

“Pertama, umumnya ketika terjadi kondisi kesedihan kedukaan termasuk patah hati apapun penyebabnya, banyak orang denial, kayak melakukan penolakan,” kata psikolog Ayoe Sutomo, Rabu (26/2).

Hati dan pikiran punya keyakinan berbeda. Di satu sisi pikiran menyampaikan pesan bahwa dia memang tidak bersama kita, tapi hati masih ingin bersama. Di sini individu akan menganggap tidak terjadi apa-apa dan menganggap diri baik-baik saja.

2. Anger (kemarahan)

Kemarahan bisa ditujukan pada banyak orang. Marah pada mantan yang menempatkan dirinya dalam kondisi sakit hati, marah pada orang sekitar serta lingkungan, dan bisa juga marah pada mereka yang berbeda pendapat. Intinya, apa yang terjadi sekarang adalah akibat ulah orang lain.

3. Bargaining (tawar-menawar)

Tahap tawar-menawar kadang terjadi bersamaan dengan tahap penolakan. Tahap ini individu mencari jalan agar hubungan kembali seperti semula baik dengan negosiasi, ancaman atau bahkan mujizat.

Individu mungkin bisa menjanjikan perubahan diri yang lebih baik, pergi ke terapis, atau dengan mengatakan bahwa perpisahan hanya membawa luka pada keluarga. Tahap ini kebanyakan individu menjanjikan akan jadi pribadi yang lebih baik jika hubungan bisa diperbaiki.

4. Depression (depresi)

Depresi memiliki banyak bentuk tak hanya yang tampak dan bisa dideteksi orang lain. Depresi bisa ditandai dengan rasa lelah sepanjang waktu, tak ingin melakukan apapun, merasa tak terhubung dengan orang sekitar padahal berada di tempat yang sama, serta bisa juga bermasalah dengan pola tidur dan makan.

“Kesedihan begitu mendalam seolah-olah dunia akan berakhir, segalanya tidak ada artinya, semua berantakan, hidupku hancur,” imbuh Ayoe.

5. Acceptance (penerimaan)

Akhirnya, individu bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya dan berdamai dengan rasa kehilangan. Tahap ini tak terjadi tiba-tiba, perlu proses dan waktu.

Untuk sampai pada tahap ini individu perlu dukungan orang sekitar dan lingkungan. “Menerima bahwa yang terjadi pada diri sudah seperti itu terjadinya, enggak ada yang perlu disangkal lagi, tidak perlu ada yang dimarahi lagi, tidak perlu berandai-andai tapi sudah menerima itu sebagai perjalanan hidup yang harus diyakini menjadikan kita lebih baik dan lebih kuat,” jelasnya. (CNN/dfn)

Berikan Komentar