Diduga Tahu Teror Christchurch, Selandia Baru Usut Peran Intelijen

oleh -167 views

garudaonline, Selandia Baru: Selandia Baru memulai penyelidikan terhadap intelijen dan kepolisian terkait dugaan kedua lembaga tersebut sudah mengetahui kemungkinan penembakan di masjid Christchurch pada 15 Maret lalu sebelum teror itu terjadi.

Komisi kerajaan Selandia Baru dilaporkan akan mencari bukti mulai awal pekan ini, dengan menyelidiki sejumlah peristiwa yang berlangsung sebelum penembakan massal tersebut terjadi dan menewaskan total 51 jemaah di dua masjid.

“Ini adalah bagian penting dari respons kami yang sedang berlangsung terhadap serangan teror tersebut. Hasil temuan Komisi Kerajaan akan membantu memastikan serangan seperti itu tidak pernah terjadi lagi di negara ini,” kata Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, Senin (13/5).

Komisi tersebut dipimpin langsung oleh hakim Mahkamah Agung William Young dan mantan diplomat Jacqui Caine. Dikutip AFP, komisi tersebut akan melaporkan hasil temuannya pada 10 Desember mendatang.

Hasil tersebut tak akan segera dirilis ke publik jika badan tersebut mengeluarkan rekomendasi sementara dengan alasan kepentingan keselamatan publik.

Sejak penembakan massal berlangsung, badan intelijen Selandia Baru terus menghadapi kritik karena diduga gagal mencegah teror paling parah dalam sejarah itu.

Badan intelijen dan aparat disebut terlalu fokus pada ancaman dari ekstremis Islam dan meremehkan bahaya yang ditimbulkan oleh kaum ekstremis sayap kanan.

Pelaku penembakan Christchurch merupakan penganut supremasi kulit putih yang berasal dari Australia.

Sang pelaku yang diketahui bernama Brenton Tarrant itu sempat mengunggah manifesto untuk menjelaskan motifnya melakukan teror dalam akun media sosialnya.

Dalam manifestonya yang berjudul “The Great Replacement”, Tarrant mengaku ingin menyerang umat Muslim. Dia menegaskan motivasinya dalam melakukan penembakan massal, yakni ingin “menciptakan ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap umat Muslim.”

Ia bahkan menyiarkan aksi penembakannya di salah satu masjid secara langsung melalui akun Facebook.

Dilansir AFP, Komisi Kerajaan juga akan menyelidiki sejumlah aktivitas dan kegiatan Tarrant sebelum melakukan serangan, termasuk bagaimana pria 28 tahun itu bisa memperoleh lisensi senjata dan amunisi.

Sejak teror terjadi, pemerintah Selandia Baru telah memperketat undang-undang kepemilikan senjata dan tengah meninjau aturan yang mampu membendung ujaran kebencian di kalangan masyarakat.

Wellington juga terus menekan perusahaan-perusahaan media sosial raksasa seperti Facebook dan Twitter untuk berbuat lebih banyak dalam upaya memerangi terorisme dan ekstremisme secara daring. (CNN/dfn)

Berikan Komentar