Dikelilingi Sampah, Indonesia Harus Segera Berbenah

oleh -158 views

garudaonline, Jakarta: Siang itu sekelompok anak terlihat asyik bermain di sisi salah satu sungai yang paling tercemar di Indonesia. Berlokasi di Bekasi, Jawa Barat, level polusi Sungai Pisang Batu masuk dalam daftar yang mengkhawatirkan.

Bau busuk menyeruak dari tumpukan sampah yang mengalir di aliran sungai tersebut. Sampah plastik merajai pemandangan menjijikkan sekaligus menyedihkan itu.

Pemerintah Indonesia telah berikrar untuk mengurangi sampah plastik sampai 70 persen hingga tahun 2025. Dana sebesar US$1 miliar per tahun juga bakal dikucurkan untuk menyokong perubahan tersebut.

Setiap musim hujan dan banjir, seluruh warga desa turun tangan untuk membersihkan sungai,” kata Marzuki, warga Tarumajaya, yang juga berkata bahwa sampah di sungai ini juga berasal dari perkampungan di hulu.

“Kami tidak pernah berhenti melakukan itu, tapi sampah tetap saja datang.”

Namun Sungai Pisang Batu hanyalah satu dari sekian banyak perairan di negara kepulauan ini yang tercemar. Indonesia menghasilkan sekitar 3,2 juta ton sampah setiap tahun dan hampir setengahnya berakhir di laut, menurut sebuah studi tahun 2015 dalam jurnal Science.

Indonesia bahkan disebut sebagai negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbanyak ke-dua setelah China.

Setiap hari ada 25 truk sampah yang bolak-balik ke sini untuk memungut sampah, namun sampah tetap saja terlihat,” kata Suseno, kepala keamanan desa di Tarumajaya.

Bersamaan dengan Pulau Jawa yang berjuang menyelamatkan sungai-sungainya dari pencemaran, maka Pulau Bali pada tahun ini resmi melarang penggunaan kantong plastik di toko besar dan toko serba ada, sebelum nantinya larangan yang sama bakal berlaku di toko-toko kecil.

Tapi perubahan ke arah yang lebih baik itu masih saja menuai protes.

“Saya pernah melihat orang yang protes karena tak mendapat kantong plastik setelah belanja,” kata Thomas Wibowo, salah satu pengunjung toko serba ada di Bali, yang merasa kalau sampah plastik semakin mengkhawatirkan.

“Tetapi jika tiba-tiba dilarang menggunakan plastik, sebagai orang Indonesia, kami pasti akan terkejut.”

Tercemarnya perairan Indonesia semakin disoroti dunia pada November 2018, ketika paus sperma mati di pantai dan ditemukan menelan 6 kilogram sampah plastik di perutnya.

“Saya pikir ini juga masalah global, bukan hanya masalah nasional,” kata Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Walikota ibu kota Bali, Denpasar.

“Saya telah melihat bahwa banyak warga menerima dan mendukung gerakan pengurangan sampah plastik, termasuk wisatawan. Mereka sangat ingin plastik pembungkus diganti oleh bahan yang lebih ramah lingkungan.” (CNN/voshkie)

Berikan Komentar