Ditreskrimsus Polda Sumut Ungkap Praktik Aborsi Ilegal di Medan Amplas

oleh -1.465 views
Kanit 3 Subdit 4 Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumut Kompol Wira Prayatna SH SIK MH (2 dari kiri) merilis tersangka dan barang bukti aborsi

garudaonline – Medan | Personel Unit 3 Subdit 4 Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumut berhasil mengungkap praktik aborsi atau kuret ilegal di salah satu rumah di kawasan Jalan SM Raja, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas.

Dari pengungkapan itu, polisi menangkap dua orang pelaku NFT alias T (69) warga Jalan SM Raja, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas dan KFS alias Tika (21) warga Kelurahan Rimbo, Kecamatan Muara Tebo, Jambi.

“Pelaku NFT alias T ini pensiunan PNS yang membuka praktik aborsi ilegal tersebut. Sedangkan KFS alias Tika pasien,” kata Dirreskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Drs Toga Habinsaran Panjaitan melalui Ps Kasubdit 4 Tipiter Kompol Hairil Sani SH.

Lebih lanjut didampingi Kanit 3 Subdit 4 Kompol Wira Prayatna SH SIK MH, Hairil Sani menjelaskan, terbongkarnya praktik aborsi ilegal tersebut setelah pihaknya menerima informasi dari masyarakat tentang adanya orang yang dengan sengaja melakukan aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan di salah satu rumah di kawasan Jalan SM Raja, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas.

“Berdasarkan informasi tersebut, anggota langsung mendatangi rumah yang dimaksut, dan menemukan seorang perempuan berinisial NFT alias T sedang melakukan tindakan medis terhadap seorang pasien berinisial KFS yang diketahui akan melakukan aborsi terhadap janinnya yang telah berusia 4 bulan di kandungan,” terang Hairil Sani.

Polisi lalu mengamankan NFT alias T dan KFS berikut barang buktinya berupa uang sebanyak Rp5 juta, tempat tidur pasien, bantal, perlak, kain sarung, tiang infus, ampul bekas pitogen, fles infus dextrose bekas, dan 3 ampul pitogen masih berisi.

Dalam pemeriksaan pelaku mengaku sudah menjalankan praktik ilegalnya itu dari tahun 2012. Diduga Pelaku sudah aborsi lebih dari 5 pasien. Dia juga mengaku dibayar Rp6 juta untuk menggugurkan kandungan KFS.

Terhadap pelaku hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan. Ia dipersangkakan dengan 194 jo Pasal 75 ayat (2) UU RI No 36 Tahun 2009 tentang UU Kesehatan dengan ancaman paling lama 10 tahun denda Rp1 Milliar dan Pasal 86 jo Pasal 46 ayat 1 UU RI No 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dengan ancaman denda Rp100 juta.

(g.01)

Berikan Komentar