Bank UOB: 2017, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen

oleh -107 views

garudaonline – Jakarta | PT Bank UOB Indonesia memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun depan akan bertumbuh meskipun kondisi perekonomian global masih melemah.  Presiden Direktur UOB Indonesia Kevin Lam mengatakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil di kisaran 5,2 persen tahun depan. Tahun ini ekonomi akan tumbuh 5 persen.

Kevin optimistis, pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui berbagai paket kebijakan ekonomi yang bertujuan meningkatkan investasi dalam negeri. Beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang tengah dibangun oleh pemerintah, juga akan membantu pemerataan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan nasional.

“Pembangunan tersebut juga menciptakan lapangan kerja. Hal ini memberikan kontribusi daIam memperkuat konsumsi rumah tangga,” ujar Kevin dalam konferensi pers usai acara UOB Indonesia Economic Outlook 2017 di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu, 16 November 2016.

Sejak September 2015, pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi. Beberapa paket kebijakan tersebut antara Iain menyederhanakan prosedur investasi asing, memperbaharui program bahan bakar minyak bersubsidi, menghapuskan pajak berganda di sektor properti, serta menata sektor perdagangan digital (e-commerce).

Kevin menilai, kerja keras pemerintah untuk meningkatkan minat investasi dari investor daIam negeri maupun asing melalui paket-paket kebijakan tersebut teIah memberikan hasil. Menurut survei UOB Asian Enterprise Survey 2016, hampir seperempat perusahaan Asia yang menjadi responden memiIih Indonesia sebagai tujuan ekspansi dalam 3-5 tahun ke depan.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2016 berada di kisaran 5,0 hingga 5,1 persen. “Karena fiskal akan ekspansif,” katanya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 10 November 2016.

Menurut Sri Mulyani  banyak kementerian dan lembaga (KL) yang akan belanja di akhir 2016. Realisasi belanja hingga akhir tahun diprediksi mampu mencapai 96 persen dari target. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja yang biasanya sekitar 95 persen.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan,  belanja negara selama Oktober hingga Desember 2016 sebesar Rp 600,6 triliun, terdiri dari belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. Namun pendapatan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp 486,1 triliun di kuartal IV. “Jadi ada netto defisit sebesar Rp 114,5 triliun,” kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, defisit akan ditutup pembiayaan dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Penerbitan SBN sudah mencapai 98,7 persen. “Sisanya dipenuhi dari penerbitan surat utang di pasar domestik.”Ia memastikan defisit APBN-P 2016 dijaga di tingkat 2,7 persen dari PDB.(BS)

Berikan Komentar