Jabat Komisaris Utama, Archandra Tahar Diyakini akan Buat Pertamina Mendunia

oleh -230 views

garudaonline – Jakarta | Pengamat Hukum Sumber Daya Alam dari Universitas Tarumanegara, Ahmad Redi menyambut baik keputusan Menteri BUMN Rini Soemarno yang mengangkat Archandra Tahar jadi komisaris utama Pertamina. Keputusan ini berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertamina yang dituangkan dalam salinan Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-254/MBU/11/2016, Senin (14/11) lalu.

Menurut Redi, masuknya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut akan membuat Pertamina mendunia. Archandra dinilai memiliki kualifikasi untuk kemajuan Pertamina.

Archandra sendiri menggeser posisi Edwin Hidayat Abdullah yang diturunkan sebagai anggota Komisaris Pertamina. Edwin selanjutnya mengisi posisi Widhyawan Prawiraatmadja yang pada saat bersamaan diberhentikan sebagai Komisaris Pertamina.

“Saya kira ini pilihan profesional. Yakni menempatkan orang-orang yang punya kompetensi di bidangnya,” kata Ahmad ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin (28/11).

Redi mengakui, selama ini banyak orang-orang penting di BUMN memiliki komunikasi yang tidak begitu baik dengan kementerian ESDM. Komunikasi yang dilakukan lebih banyak ke kementerian BUMN, sehingga dengan adanya Archandra diharapkan komunikasi bisa berjalan lebih baik dengan Kementerian ESDM.

Terkait posisi Edwin Hidayat Abdullah yang mengalami penurunan jabatan dengan masuknya Archandra menurut Redi, merupakan hal yang perlu dicatat. Apakah ini karena secara struktural posisi Archandra sebagai Wakil Menteri ESDM lebih tinggi dari Edwin yang di Kementerian BUMN menjabat Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN

“Archandra adalah Wakil Menteri (ESDM) rasanya secara psikologis tidak mungkin hanya menjadi komisaris biasa, wakil komut itu yang cocok.”

Edwin diangkat menjadi Komisaris Pertamina berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor S-64/S.MBU/03/2016 tertanggal 29 Maret 2016. Selama menjabat, dia sering membuat kebijakan yang kurang pas dengan perusahaan yang diwakilinya.

Misal mendorong pembentukan induk usaha energi. Salah satu skemanya adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengakuisisi anak usaha Pertamina, yakni Pertagas. Tapi, opsi ini mendapat pertentangan dari pihak Pertamina.

Edwin juga dianggap kerap melakukan manuver yang mendorong penjualan PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) kepada PT PLN. PGE adalah anak perusahaan Pertamina yang notabene di bawah pengawasan-nya. Isu ini sempat mendapat sorotan tajam banyak pihak, terakhir dari Menteri ESDM Ignatius Jonan yang meminta PLN konsentrasi terhadap pemenuhan eletrifikasi dan target 35.000 Megawatt.

Tentang wacana akuisisi PGE oleh PLN, Redi mengaku sudah mendengarnya. Namun menurutnya, hal itu hanya sebuah usulan sehingga bukan alasan utama pergantian posisi. “Yang penting, masuknya Archandra menandakan adanya reposisi untuk orang-orang yang bisa bekerja dengan lebih baik,” ucapnya.

Kehadiran Archandra di Pertamina diyakini bisa membawa perusahaan itu menjadi lebih baik, termasuk wacana pembelian PGE oleh PLN. Namun untuk mencapai ini Archandra harus menata Pertamina dengan kerja keras.(md)

Berikan Komentar