Penurunan Stok Minyak AS Picu Menguatnya Harga Minyak Dunia

oleh -330 views

garudaonline, Jakarta: Harga minyak dunia menguat 3 persen pada perdagangan Rabu (22/8), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu sentimen data pasokan minyak mentah AS yang menurun lebih besar dibanding perkiraan.

Tak hanya itu, pengenaan sanksi AS kepada Iran juga menjadi sinyal pengetatan pasokan di pasar, sehingga diperkirakan mampu mengangkat harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Kamis (23/8), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$2,15 atau 3 persen menjadi US$74,78 per barel. Selama sesi perdagangan, harga acuan global ini sempat menyentuh US$75 per barel, tertinggi sejak 31 Juli 2018.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,02 atau 3,1 persen menjadi US$67,86 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam merosot 5,8 juta barel pekan lalu. Padahal dalam polling Reuters, analis sebelumnya memperkirakan penurunan hanya akan sebesar 1,5 juta barel.

EIA juga mencatat minyak mentah yang diolah di kilang turun 89 ribu barel per hari (bph) dari capaian tertinggi dalam sepekan yang menyentuh 179 juta bph. Tingkat utilisasi kilang masih tak bergerak di level 98,1 persen dari total kapasitas, tertinggi sejak 1999.

“Banyaknya pengolahan berkontribusi pada penurunan stok minyak mentah yang besar di mana sekitar separuh penurunannya diimbangi oleh kenaikan persediaan bensin dan minyak distilasi,” ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Stok bensin AS tercatat naik 1,2 juta barel, sementara persediaan minyak distilasi menanjak 1,8 juta barel.

Harga minyak juga mendapatkan sokongan dari pelemahan kurs dolar AS. Pekan ini dolar AS melemah sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan ‘tidak senang’ dengan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS Federal Reserves.

Sebagai catatan, pelemahan dolar AS membuat harga minyak menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lain.

Selain itu, harga minyak juga mendapatkan dorongan dari prospek penurunan ekspor minyak dari Iran sebagai efek dari implementasi sanksi AS kepada produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu.

Perusahaam minyak Eropa mulai memangkas pembelian minyak mentah dari Iran, meski pembeli dari China mengalihkan kargo minyaknya ke kapal milik Iran untuk menjaga pasokan tetap mengalir.

“Isu terkait Iran terus berada di kepala para trader,” ujar Kepala Strategi Pasar AxiTrader Greg McKenna.

Rabu (22/8) kemarin, Iran meningkatkan tensi dengan mengancam bakal menyerang AS dan Israel jika AS menyerang Iran usai pemerintah Negeri Paman Sam mengancam bakal menekan Iran lebih dari sekadar sanksi ekonomi.

Di sisi lain, OPEC mulai mengerek produksinya menyusul kesepakatan dengan Rusia dan sekutunya pada Juni lalu, meski produsen melakukannya secara hati-hati. Arab Saudi mengatakan kepada OPEC telah memangkas pasokan pada Juli lalu, alih-alih meningkatkan produksi seperti yang diperkirakan.

Sinyal pengetatan pasokan mengimbangi perlambatan permintaan yang disebabkan oleh sengketa dagang antara AS dan China.

Pemerintah AS dan China bertemu pada Rabu kemarin untuk membahas masalah perdagangan kedua negara. Namun, Trump berekspektasi tak akan ada kemajuan nyata.(cnn/voshkie)

Berikan Komentar