Ratusan Petani Jagung di Karo Gagal Panen

oleh -466 views

garudaonline, Karo | Ratusan petani jagung di Kecamatan Tiga Binanga, Kecamatan Munthe dan Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo, Sumatera Utara gagal panen. Pasalnya wilayah penghasil jagung terbesar itu tidak dilengkapi infrastruktur yang layak seperti, irigasi dan sumur bor untuk menghadapi musim kemarau.

Septian Sebayang dari Himpunan Mahasiswa Singalor Lau, Minggu (13/11/2016) mengatakan, mereka melakukan pengamatan ke lahan areal pertanian jagung Kendit Kendran Tiga Binanga dan areal jagung Desa Gunung serta Desa Lau Kapor dan juga areal jagung Desa Munthe pada Senin (7/11/2016).

Ternyata jagung yang umurnya sudah siap panen tersebut tidak dapat dipanen oleh petani karena buah jagungnya tidak ada akibat kemarau. Kondisi jagung itu buahnya hanya berupa tongkol saja dan tinggi batangnya hanya 50 cm serta tidak merata satu sama lainnya. Batang jagung yang sudah tua berwarna kuning dibiarkan tanpa dipanen.

“Akibat kemarau yg panjang, cuaca menjadi kendala petani. Padahal bibit jagung sudah ditanami oleh petani dan sejak itu pula hujan tidak turun. Maka rusaklah pertumbuhan jagung itu dan tidak dapat lagi diberi pupuk. Peristiwa gagal panen jagung ini sudah sering terjadi,” jelasnya.

Menurut mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara (USU) itu, area pertanian jagung tersebut sangat membutuhkan infrastruktur yang baik seperti irigasi dan sumur bor untuk mengantisipasi gagal panen bila terjadi musim kemarau.

“Padahal, gagal panen yang telah berulang kali terjadi, pemerintah harusnya sudah memberikan solusi dengan dibuatkannya areal irigasi dan sumur bor. Sejak jaman kakek kami dulu semua areal pertanian di Tiga Binanga dan Munthe ada irigasinya. Ini kok semakin maju zaman, irigasi itu sudah hilang dan tidak kunjung juga dibuat,” ungkapnya.

Samuel Ginting, salah satu petani di Desa Simolap Kecamatan Tiga Binanga sekaligus pemilik gudang penggilingan jagung di Desa Simolap mengatakan bantuan bibit jagung dari Pemerintah Pusat kepada petani yang diberikan sia-sia karena terjadi musim kemarau dan infrastruktur pertanian tidak mendukung untuk mengantisipasi kemarau.

“Biasanya pada saat begini kami sibuk untuk menggiling jagung dan mengeringkannya di areal gudang saya. Tapi sekarang ini kosong karena banyak petani yang gagal panen,” ucapnya. (Fidel)

Berikan Komentar