Wow… Raker 3 Hari DPRDSU ‘Telan’ Rp 2,9 M

oleh -90 views

garudaonline – Medan | Sekretariat DPRD Sumut selaku pengguna anggaran telah mengalokasikan biaya sebesar Rp 2,9 miliar untuk rapat kerja (Raker) selama 3 hari. Alokasi anggaran itu ditampung pada APBD 2016 dengan kode rekening 1.20. 1.20.04.15.20 dengan uraian Rapat Kerja DPRD Sumut.

Menyikapi hal tersebut, sekretaris Komisi C DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan mempertanyakan alokasi anggaran yang begitu besar untuk sebuah kegiatan Raker selama 3 hari di Berastagi.

“Anggarannya Rp 2,9 miliar hanya untuk tiga hari, berarti satu hari sekitar Rp1 Miliar. Rapat apa dengan alokasi anggaran sebesar itu,” kata Sutrisno mengkritisi, Senin (5/12).
Politisi PDI-Perjuangan itu meyakini kegiatan itu tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap kinerja lembaga legislatif secara keseluruhan.

“Ini hanya pemborosan anggaran, kegiatan yang tidak perlu untuk dilaksanakan,” ujarnya.
Sutrisno pun mencoba menganalisis mengenai anggaran yang digelontorkan begitu besar hanya untuk kegiatan Raker.

“Kalau Rp 2,9 Miliar dibagi 100 anggota dewan, berarti setiap anggota dewan bisa dapat Rp 29 juta, itulah yang dipergunakan untuk membayar hotel dan biaya makan minum selama kegiatan berlangsung,” bebernya.
Namun, selama mengikuti kegiatan Kunjungan kerja (kunker) ke luar kota dalam provinsi, Sutrisno mengaku ia hanya menerima Rp1,4 juta perhari, itu pun sudah termasuk biaya makan.

“Kenapa bisa begitu besar alokasi anggarannya, nanti akan kita pertanyakan. Jangan kita mengoreksi anggaran SKPD lain, tapi anggaran Sekretariat tidak. Kenapa Banggar bisa sampai meloloskan kegiatan itu,” ungkapnya.
Mengomentari hal tersebut, politisi muda ini secara tegas menyatakan, anggaran sebesar Rp 2,9 itu dianggap tidak wajar dan mubazir. Alangkah baiknya anggaran itu diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kondisi keuangan Sumut saat ini lagi kacau. Jadi lebih baik anggaran dewan itu diberikan kepada masyarakat terutama bagi masyarakat pinggiran Rel Kereta Api (KA) yang digusur.
Mereka hanya mendapat ganti rugi sebesar Rp1.5 juta, sementara mereka harus kehilangan tempat tinggal,” ujarnya
Terpisah Direktur Sumut Institute, Oesril Limbong terkejut mendapat informasi terkait dana anggaran Raker DPRDSU yang fantastis ini.

Ia sependapat dengan pernyataan Sutrisno. Ia menilai kegiatan itu hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. “Kegiatanya hanya 3 hari, tapi anggarannya sangat besar, tentunya ini tidak wajar,” katanya menilai.
Oesril juga mengatakan anggaran Rp 2,9 miliar itu perlu dipertanyakan kepada pihak Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sumut, Sekwan DPRD Sumut atau ada oknum-oknum tertentu yang meloloskan anggaran ini.
“Apa dasar pemikiran sehingga anggaran Rp 2,9 miliar diloloskan. Siapakah yang punya kepentingan ini?” begitu Oesril mempertanyakan.

Sebab itu, ia meminta kepada penegak hukum untuk mengusut anggaran raker DPRD Sumut yang dilaksanakan selama 3 hari di Berastagi dengan anggaran Rp 2,9 miliar.
Selain itu, Oesril juga mempertanyakan alasan mengapa Raker DPRD Sumut tersebut harus digelar di luar kota Medan dengan alasan yang sangat mendasar.

“Banyak ruangan di DPRD Sumut yang bisa dipakai, termasuk ruang sidang Paripurna. Anggaran Rp 2,9 miliar itu tidak seharusnya dihabiskan untuk Raker. Ini namanya pemborosan anggaran, dan harus dipertanggungjawabkan,” tandasnya. (sor)

Berikan Komentar