Eksportir Minta Perbankan Turunkan Tarif Swap

oleh -711 views

garudaonline, Jakarta: Perbankan diminta menurunkan tarif transaksi swap (jual beli valas dengan kontrak jangka waktu tertentu) sebagai insentif agar pengusaha mau menukar Devisa Hasil Ekspor (DHE) menjadi rupiah. Saat ini, tarif swap lindung nilai yang ada dinilai tidak menarik.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan pengusaha sebetulnya tidak masalah jika harus membayar tarif tertentu untuk melaksanakan transaksi swap. Namun, tarif yang ditawarkan perbankan saat ini membuat pengusaha lebih memilih menyimpan dana dalam rekening valuta asing (valas).

Hal tersebut, menurut dia, lebih menarik karena DHE sewaktu-waktu dapat ditarik jika dibutuhkan dan tidak dibebani proses berbelit.

Adapun, Bank Indonesia sendiri menetapkan tingkat bunga swap satu bulan di angka 6,2 persen, sementara swap rate tiga bulan dipatok sekitar 7,3 persen.

“Kami dirayu dong supaya tukar dolar AS ke rupiah bukan gratis, tetap bayar tapi caranya dipermudah, syaratnya, lalu ongkosnya jangan mahal-mahal,” papar Benny, Rabu (8/8).

Selain itu, ia juga menyebut bahwa kewajiban konversi DHE ke rupiah ini tidak boleh dipukul rata. Menurut Benny, eksportir berbahan baku Sumber Daya Alam (SDA) seharusnya diwajibkan untuk konversi DHE ke rupiah lantaran tidak ada arus uang keluar untuk membeli bahan baku.

Namun, pengusaha yang membutuhkan bahan baku impor sebaiknya dilonggarkan dari kewajiban tersebut. Sebab, devisa yang dimiliki pengusaha tentu tak langsung ditukarkan ke rupiah, namun digunakan sebagai pembayaran bahan baku impor.

“Tapi terkait swap rate yang ideal, saya tidak mau sebut. Yang pasti swap dengan rate 5 persen masih mahal, 4 persen juga masih mahal,” jelas dia.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto menjelaskan bahwa pada dasarnya pengusaha tidak ingin rugi dalam melaksanakan transaksi swap lindung nilai. Ia hanya berharap, pemerintah memberikan mekanisme di mana pengusaha tidak harus mengeluarkan biaya tambahan di dalam konversi rupiah terhadap dolar.

Ia mengatakan, ada baiknya imbal hasil simpanan dari devisa yang terkonversi menjadi rupiah berkorelasi dengan depresiasi nilai tukar yang terjadi saat itu. Misalnya, di dalam periode swap satu bulan terjadi depresiasi rupiah sebesar 1,5 persen, maka perbankan harus berani memberi imbal hasil kepada tabungan DHE yang sudah ditukar ke rupiah setara 1,5 persen dalam 30 hari.

“Jadi intinya ada zero-zero, tidak ada biaya tambahan dalam mengonversi DHE-nya ke rupiah,” papar Anne.

Pemerintah sebelumnya meminta dunia usaha untuk membawa masuk DHE yang diparkir di luar negeri dan menukarkannya ke dalam rupiah. Ini demi meningkatkan cadangan valas yang dimiliki BI serta menguatkan permintaan terhadap rupiah, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa menguat kembali.

Saat ini, cadangan devisa per Juli sudah mencapai US$118,3 miliar atau turun drastis dari posisi awal tahun yakni US$131,98 miliar. Ini demi menanggulangi depresiasi rupiah yang sudah mencapai 6,43 persen di waktu yang sama. (cnn/voshkie)

Berikan Komentar