Buffon, Tembok Perkasa yang Belum Mau Pamit

oleh -173 views

garudaonline – Turin | Skor imbang tanpa gol adalah seburuk-buruknya hasil dari sebuah pertandingan sepak bola. Tak ada selebrasi pemain. Tak ada tim yang bergembira karena menang atau sedih akibat kalah. Pemandangan itulah yang terlihat di Giuseppe Meazza, Milan, Senin dinihari, 14 November 2016. Italia bermain dengan skor kacamata saat melawan Jerman.

Untunglah, ada yang menarik dari pertandingan itu. Gianluigi Buffon menjadi orang yang paling hebat. Meski bermain setengah pertandingan, dia telah resmi menjadi pemain paling hebat di Eropa. Cap (jumlah pertandingan tim nasional) yang mencapai 167 menjadikan dia bersama Iker Casillas sebagai pemain yang paling banyak membela negaranya di daratan Eropa.

Tapi, berbeda dengan Casillas—yang sulit bisa bertambah lagi cap-nya karena posisinya yang sudah tergusur David de Gea—Buffon, yang sudah berumur 38 tahun, tetap menjadi andalan Azzurri. Buffon pun belum mau berhenti. “Saya sudah membela Italia di Piala Dunia selama 12 tahun. Tapi saya masih ingin tampil di Piala Dunia 2018.”

Tentu bekas kiper Parma ini tak menyangka kariernya bisa teramat panjang. Saat debut pada 29 Oktober 1997, dia hanya berpikir bahwa mimpinya telah terwujud, yakni memakai kostum nasional Italia dengan bendera merah-putih-hijau di dadanya. Sebuah prestasi besar untuk anak muda berumur 19 tahun.

Tapi, untuk menjadi kiper utama, jalannya teramat terjal. Selain Walter Zenga, Italia masih punya kiper-kiper hebat lain, seperti Gianluca Pagliuca, Angelo Peruzzi, dan Francesco Toldo. Buffon pun hanya menjadi kiper pilihan keempat.

Namun keberuntungan datang menghampiri Buffon. Dino Zoff, kiper hebat Italia yang membawa negeri itu menjadi juara Piala Dunia 1982, menjadi Manajer Azzurri. Dia melihat kehebatan Buffon yang tersembunyi dan mulai mempercayai kiper Juventus itu sebagai pilihan nomor satu. Berturut-turut, Buffon pun menjadi pilihan utama.

Dalam Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, Buffon menjadi kiper nomor satu. Puncak kariernya tentu saja terjadi pada 2006, saat Italia menjadi juara dunia setelah melalui drama adu penalti mengalahkan Prancis.

Tak ada yang menyangsikan lagi kehebatannya. Zlatan Ibrahimovic, yang satu klub dengan Buffon saat berada di Juventus, memujinya setinggi langit. “Saat berada di gawang, Buffon layaknya tembok,” ucapnya.

Casillas menyebutnya sebagai dambaan kiper-kiper muda di mana pun. “Siapa pun ingin seperti dia,” ujarnya.

Casillas tak berbohong. Joe Hart, kiper Inggris, menyebut Buffon sebagai inspirasinya. Kiper lain sama saja. “Buffon adalah idola saya,” tutur Manuel Neuer, kiper Jerman yang menjadi lawannya dalam pertandingan Senin dinihari lalu.

Buffon bukannya tak tahu mendapat puja-puji semacam itu. Namun dia menanggapinya dengan ringan. “Ketika kecil banyak mencetak gol, setelah besar tumbuh menjadi anak bodoh dan memilih menjadi penjaga gawang,” ucapnya menceritakan diri sendiri. (T)

Berikan Komentar