Gempa NTB, 21 Desa di Tiga Kabupaten Masih Terisolasi

oleh -441 views

garudaonline, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan masih 21 desa di tiga kabupaten, pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih terisolasi dan membutuhkan bantuan pascagempa 7,0 SR yang terjadi akhir pekan lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dari ke-21 desa tersebut yang kondisinya paling parah ada di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.

“Ada beberapa daerah yang terisolir terutama di Lombok Utara, dari data sementara masih bertambah ada di desa Bayan Beleq, Kecamatan Bayan,” kata Sutopo dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (7/8).

Sutopo merinci ada 8 desa di Lombok Utara, 3 desa di Lombok Barat, dan 10 desa di Lombok Timur.

Akibat situasi tersebut, sambungnya, logistik bantuan untuk pengungsi di daerah-daerah tersebut pun tak sebanding dengan jumlah pengungsi. Sampai saat ini pihaknya pun belum dapat menghitung secara pasti jumlah pengungsi di seluruh pulau Lombok akibat gempa berkekuatan 7,0 SR yang terjadi akhir pekan lalu.

Selain itu, kata Sutopo, di Lombok Utara umumnya listrik masih padam. Secara keseluruhan, katanya, di pulau yang terkenal sebagai destinasi wisata itu baru menyala sekitar 25 persen.

“PLN terus melakukan perbaikan. Keterbatasan air bersih, PDAM yang ada di Lombok Utara hancur salurannya sejak gempa sehingga tidak bisa mendistribusikan maupun memproduksi air bersih,” terang dia.

Sementara itu, di Kabupaten Lombok Timur, yang mengalami dampak terparah akibat gempa 6,4 SR pada 29 Juli lalu masyarakat masih membutuhkan sejumlah bantuan. Bantuan yang paling utama adalah makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.

“Mereka juga memerlukan tenda, terpal, selimut, pakaian, makanan untuk anak-anak, makanan tambahan gizi, masih diperlukan banyak sekali untuk penanganan Lombok,” terangnya.

Sesalkan Maraknya Hoaks Terkait Bencana

Selain itu, Sutopo menegaskan sampai dengan saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi waktu dan tempat terjadinya gempa. Oleh karena itu, ia geram dengan masih maraknya yang percaya dengan kabar bohong alias hoaks terkait gempa Lombok.

Sutopo memaparkan, informasi hoaks tersebut ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Hal itu lantas membuat para korban baik itu warga lokal, wisatawan lokal maupun mancanegara panik.

“Banyak hoaks beredar dan jadi viral menimbulkan panik. mereka sudah trauma muncul berita hal semacam ini dan bahkan ada juga yang dalam Bahasa Inggris,” kata Sutopo.

Dia menegaskan satu-satunya sumber yang bisa dipercaya terkait gempa hanya berasal dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG, lanjut Sutopo, memiliki alat pendekteksi gempa yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, alat tersebut tidak dapat memprediksi gempa.

Seismograf, kata dia, hanya mampu mengabarkan kekuatan gempa saat sudah terjadi.Tidak sampai lima menit setelah gempa terjadi, informasi akan segera disampaikan kepada masyarakat melalui media massa, media sosial, maupun pesan singkat termasuk bila ada potensi tsunami.

“Begitu ada potensi tsunami, 5 menit lebih berapa detik pasti ada peringatan dini tsunami. Tetap kita minta semuanya mengacu ke BMKG terkait gempa dan tsunami,” terangnya.

Berikan Komentar