Hati-hati ‘Pamer’ Poto Anak di Sosial Media

oleh -489 views

garudaonline, Jakarta: Di balik kelucuan anak yang menggemaskan di media sosial, ada bahaya tersembunyi yang mengancam. Tak banyak orang tua yang sadar akan bahaya mengunggah aktivitas anak di dunia maya.

Misalnya saja yang terjadi dalam beberapa hari ke belakang. Menjadi ironi ketika foto dan video Gempita Nora Marten ‘berlimpah-ruah’ di media sosial diiringi tagar #SaveGempi, menyusul kabar perceraian orang tuanya, Gading Marten dan Gisella Anastasia.

Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi, mengatakan bahwa ada bahaya yang mengintai saat mengunggah kegiatan anak secara berlebihan di media sosial.

“Selama tidak berlebihan atau tidak setiap saat diunggah tidak masalah. Tapi harus diperhatikan keselamatan anak, apalagi kalau public figure,” ujar Ratih, Jumat (23/11).

Psikolog dari Universitas Indonesia ini menyebut salah satu bahaya yang muncul saat mengunggah aktivitas anak adalah kejahatan. Sang anak dapat menjadi target dari penculikan hingga pedofilia.

Menggunggah foto anak di media sosial berarti sama dengan menyebarkan informasi terkait anak. Orang yang berniat jahat bisa mendapatkan informasi seperti lokasi dan waktu keberadaan anak.

“Orang jahat bisa melihat setiap hari ini sedang apa, bisa diikuti, dan mengundang kejahatan,” ucap Ratih.

Selain itu, privasi anak juga dapat terganggu. Anak menjadi tidak bebas karena setiap kegiatannya diikuti kamera dan diunggah untuk konsumsi publik.

Ratih mengatakan, saat anak sudah mulai paham, orang tua seyogianya meminta izin terlebih dahulu sebelum membagikan aktivitas anak di media sosial.

Kebiasaan orang tua mengunggah foto si buah hati dalam berbagai kegiatan ini sudah menjadi hal yang lumrah. Saking lumrahnya, beberapa orang tua menjadikan aktivitas anak sebagai salah satu cara mencari uang.

Menurut Ratih, hal tersebut sama dengan tindakan eksploitasi anak. Pasalnya, dalam kegiatan tersebut, sang anak dipaksa untuk bergaya atau bertingkah tak natural. Selain itu, lanjutnya, anak juga dipaksa untuk belajar berbohong.

“Miris sekali, ya. Misalnya endorse, dipaksa berganti baju dan diminta mempromosikan, padahal belum tentu sebenarnya begitu. Di situlah timbul makna kebohongan bahwa anak akan menangkap bohong itu tidak apa-apa,” papar Ratih.

Tak cuma itu, Ratih juga menyoroti hubungan anak dan orang tua yang berada dalam bahaya. Saat orang tua terlalu fokus merekam tingkah anak, secara tak langsung mereka akan ‘melupakan’ hubungan langsung dengan si buah hati. Padahal, interaksi semacam itu dapat mempererat ikatan antara orang tua dan buah hati.

Alih-alih merekam kegiatan yang tidak bermanfaat, Ratih menyarankan agar orang tua sebaiknya menggunakan aktivitas anak untuk berbagi inspirasi dengan orang lain.

“Boleh-boleh saja mengunggah foto anak tapi harus bisa menginspirasi dan menjadi pelajaran buat yang lain. Misalnya, selain foto, lengkapi juga dengan keterangan cara mengatasi anak yang tantrum dan sebagainya,” kata Ratih. (cnn/voshkie)

Berikan Komentar