Cerita Isa, Sang Nelayan yang Bekerja Demi Adik dan Orang Tua

oleh -217 views

garudaonline, Medan | Sebagai tulang punggung keluarga, Isa Maulidin alias Muhammad Iqbal (25) harus bekerja keras untuk menghidupi kebutuhan adik dan orangtuanya.

Namun, cara Isa menangkap ikan menyalahi aturan sehingga ia harus duduk di kursi pesakitan Ruang Cakra IV Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (22/12/2016).

“Saya bekerja sebagai nelayan untuk menghidupi kebutuhan adik dan kedua orang tua saya pak hakim,” cerita Isa yang merupakan terdakwa kasus dugaan illegal fishing ini.

Kepada majelis hakim yang diketuai oleh Fahren, Isa mengaku bekerja sebagai nelayan selama 6 bulan belakangan di perairan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Pria berkulit hitam ini mengaku, sampan yang ia gunakan mencari rezeki milik majikannya dengan dilengkapi pukat hela berpalang beam trawl dilarang digunakan menangkap ikan di perairan Indonesia.

Dari segi penghasilan, ia menuturkan, cerita pahit sebagai nelayan yang berpenghasilan tak layak dari kata cukup. Terkadang, hasil tangkapan di laut tak mampu mencukupi kebutuhan adik dan orangtuanya.

“Penghasilan saya Rp150 ribu per hari, masih kotor pak. Belum lagi uang minyaknya, paling sedikit satu hari saya cuma Rp30 per hari. Kadang pun gak bergaji, cuma capek-capek badan aja,” cerita Isa kembali.

Ia mengakui perbuatannya melanggar aturan. Polisi Perairan Pangkalan Brandan memergoki aksinya saat menangkap ikan secara ilegal dengan menggunakan pukat hela berpalang beam trawl di perairan Sei Lepan, Kabupaten Langkat pada tanggal 24 November 2016 lalu.

Jaksa penuntut umum (JPU) Andrew Sembiring mendakwa Isa Maulidin melanggar Pasal 9 jo Pasal 85 UU No 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara.

(endang)

Berikan Komentar