Dituntut 20 Tahun, Pembunuh Anggota Brimob Tendang Pintu

oleh -411 views
Enam terdakwa kasus perampokan dan pembunuhan anggota Brimob Polda Sumut menjalani sidang dengan agenda tuntutan

garudaonline, Medan | Enam terdakwa kasus dugaan perampokan hingga menyebabkan personel Brimob Polda Sumut, Briptu Marisi Robert Parulian Silaen meninggal dunia, dituntut masing-masing 20 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) Nalom. Hal itu terungkap dalam persidangan di lantai III Ruang Candra I Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (25/10/2016).

Keenam terdakwa yakni yakni Rudini Syahputra alias Acong (22), Oby Rivaldi Lubis (22), Wirdiansyah Dinata alias Imam (22), Ricardo (24), Ilham (24), Dedi Irwansyah alias Betong (26).

“Meminta kepada majelis hakim agar menghukum keenam terdakwa dengan hukuman penjara masing-masing 20 tahun,” ucap JPU Nalom dihadapan majelis hakim yang diketuai Nazzar Efendi SH.

Jaksa menilai, perbuatan para terdakwa telah menghilangkan nyawa orang lain sehingga patut dihukum seberat-beratnya.

“Para terdakwa melanggar Pasal 365 ayat (4) KUHPidana Tentang Perampokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang,” terang JPU.

Usai mendengar pembacaan surat tuntutan jaksa, majelis hakim memberikan kesempatan kepada kuasa hukum terdakwa untuk mempersiapkan surat pembelaan pada persidangan mendatang. Di luar sidang, sempat terjadi keributan. Salah seorang terdakwa sempat melontarkan kata-katanya bersifat mengancam.

“Awas kalian semua ya. Kalau tidak ketemu kita di dunia, kita akan ketemu di akhirat,” ucapnya. Komentar itu langsung disoraki beberapa anggota brimob Polda Sumut yang hadir dipersidangan itu.

Saat digiring ke ruang tahanan sementara pada Gedung PN Medan pun, para terdakwa tampaknya kesal dan tak terima dengan tuntutan jaksa. Sambil berjalan, mereka menendang pintu-pintu ruangan yang ada disekitar gedung sampai turun ke lantai dasar dan langsung dimasukkan ke ruang tahanan. “Awas kalian ya. Kumatikan kalian nanti,” teriak salah seorang terdakwa.

Menanggapi surat tuntutan jaksa, keluarga Briptu Marisi yang juga hadir dipersidangan merasa kecewa. Menurutnya, tuntutan jaksa belum mewakili rasa keadilan.

“Ya kalau bisa dituntut hukuman mati. Karena nyawa balas dengan nyawa. Jangan lagi dibiarkan para terdakwa berkeliaran. Karena nanti akan melakukan kejahatan lagi,” ucap D Marpaung, ibu Marisi Silaen.

Senada dengan istri korban. Imelda Sinambela mengakui saat ini ia masih sangat terpukul dengan kepergian sang suami.

“Saya sekarang single parent. Anak kami ada tiga orang. Yang paling besar sudah SMP. Saya maunya hukuman para terdakwa adalah mati. Namun mungkin jaksa berfikir lain. Jadi kita terima saja tuntutan jaksa,” ucap Imelda.

Ia pun mengatakan pada waktu persidangan sebelumnya, ia kerap mendapat intimidasi.

“Setiap mereka melihat saya, mereka bilang saya berbohong. Padahal para terdakwa pernah bilang kepada saya bahwa mereka hanya membegal. Mereka tidak tahu bahwa itu anggota Brimob. Mereka mengira suami saya itu satpam,” ucapnya. (Endang)

Berikan Komentar