Oknum Polisi di Nias Tersangka Cabul dan Pemerasan Terancam Dipecat

oleh -505 views
Kepala Labfor Polri Cabang Medan Kombes Pol Wahyu Marsudi dan Kabid Humas Kombes Pol Rina Sari Ginting merilis barang bukti kasus pencabulan yang diduga dilakukan dua oknum Polisi di Nias.

garudaonline – Medan | Institusi Polri kembali tercoreng. Dua personel Polres Nias ditetapkan tersangka pencabulan dan pemerasan terhadap siswi SMA, SZ alias Sesi (16) warga Desa Onozitoli Sifaorasi, Kecamatan Gunung Sitoli, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.

Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Pol Rina Sari Ginting didampingi sejumlah pejabat utama Polda Sumatera Utara lainnya, menjelaskan, tindakan memalukan itu terjadi pada 25 April 2017 lalu.

Sore itu, sekira pukul 15.00 WIB, korban bersama dengan teman prianya berinisial IP alias Rio (16) warga Desa Hiligeo Afia, Kecamatan Lotu, Nias Utara, tengah bermain di warung internet (warnet) Blue Star, Jalan Sukarno, Kelurahan Pasar tepat di depan Pendopo Bupati Nias.

Saat asyik bermain di warnet, tiba-tiba datang tiga orang. Dua pelaku di antaranya anggota Polri dan seorang lagi warga sipil menemui kedua korban.

Oknum polisi berinisial Bripka DWS (34) warga Desa Hilina’a, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli dan Bripda AFM alias F (23) warga Desa Fadoro Lauru, Kecamatan Hiliduho, Nias, dan ARWH alias W (29) warga Jalan Pelita, Kecamatan Gunungsitoli, menuduh kedua korban melakukan perbuatan mesum di warnet.

Selanjutnya, kedua korban dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa keliling kota. Dalam perjalanan, ketiga pelaku langsung melakukan negoisasi dengan kedua korban. Mereka memeras mereka dengan meminta uang Rp5 juta agar mereka tidak dibawa ke kantor polisi.

Karena ketakutan, meskipun tidak melakukan perbuatan mesum, kedua korban menuruti permintaan pelaku. Namun, mereka hanya menyanggupi sebesar Rp1 juta dengan cara dicicil. Saat itu, korban SZ hanya mampu memberi uang Rp400 ribu.

Untuk mencari sisa uang Rp600 ribu lagi, korban pria diturunkan ketiga pelaku di tengah jalan. Mereka berjanji akan bertemu di Taman Makam Pahlawan, Kota Gunungsitoli untuk menyerahkan sisanya. Sementara korban perempuan tetap berada di dalam mobil.

“Saat korban perempuan masih berada di dalam mobil, pelaku kembali membawanya mutar-mutar. Di situlah diduga dilakukan tindakan perbuatan cabul kepada korban perempuan,” sebut Rina didampingi Kapolres Nias AKBP Bazawato Zebua kepada wartawan di Aula Tribrata Mapolda Sumut,  Kamis (4/5/2017).

Beberapa saat kemudian, sambung Rina, ketiga pelaku dan korban kembali bertemu di Taman Makam Pahlawan sesuai janji sebelumnya untuk menyerahkan sisa uang Rp600 ribu. Namun, ternyata korban pria sudah memberi tahu saudaranya yang anggota Polri. Seketika pelaku berhasil ditangkap dan dibawa ke Mako untuk dilakukan pemeriksaan.

“Setiap anggota Polri yang melakukan tindak pidana atau melanggar kode etik, akan diberi sanksi tegas. Saat ini tersangka sudah ditahan di Polres Nias dan akan ditarik ke Polda Sumut untuk diproses di Ditreskrimum. Sedangkan untuk kode etiknya, dilakukan Propam Polres Nias dan juga akan ditarik ke Propam Polda Sumut,” terang Rina.

Sementara Kapolres Nias, AKBP Bazawato Zebua menjelaskan, ketiga pelaku sudah ditangkap dan ditahan di Polres Nias sejak Rabu (3/5) kemarin.

“Sudah kita lakukan tindakan hukum dengan menahan tersangka. Kita akan berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) agar kasus ini segera selesai,” katanya.

PTDH

Pernyataan Zebuan dibenarkan Kabid Propam Polda Sumut, Kombes Pol Syamsul Lubis. Ditegaskannya, kedua oknum polisi tersebut terancam sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).

“Masih kita lakukan pemeriksaan. Saya menegaskan mereka akan dijerat dua kasus, yakni kasus pemerasan dan dugaan pencabulan. Puncaknya nanti bisa dilakukan pemberhentian tidak terhormat,” tegas Syamsul Lubis.

Sedangkan Kepala Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Medan, Kombes Pol Wahyu Marsudi mengatakan, dari hasil pemeriksaan yang mereka lakukan, tidak ada bercak sperma di dalam mobil yang digunakan para pelaku saat itu.

Begitu juga di pakaian korban yang dikenakannya saat kejadian. Dari keterangan itu, bisa disimpulkan kalau korban tidak diperkosa pelaku, melainkan hanya dicabuli.

”Untuk hasil visum dari pihak rumah sakit melengkapi berkas penyidik yang sudah diserahkan pihak Rumah Sakit Gunungsitoli, akan diumumkan saat persidangan,” tandasnya.

(g.10)

Berikan Komentar