Sakit Kanker Hati, Terpidana Mati Tidak Ditahan

oleh -198 views

kanker-hati garudaonline, Medan | Narapidana (napi) yang dijatuhi hukuman mati dalam perkara penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 270 kg, Daud alias Athiam (47) tidak ditahan. Pasalnya, pengusaha jasa pengiriman asal Bengkalis, Riau ini menderita penyakit kanker hati dan harus dirawat di RS Bina Kasih Medan.

Humas Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Sumatera Utara (Kemenkum HAM Sumut), Josua mengatakan, Daud dirawat di RS Bina Kasih Medan sejak tanggal 6 Oktober 2016. Karena dokter internal Lapas Klas 1 Tanjung Gusta Medan tak mampu menangani penyakitnya.

“Dia napi di dalam (Lapas). Tapi karena sakit, lalu dirujuk ke RS Bina Kasih. Dokter kita di Lapas tak bisa menanganinya. Makanya dirawat di rumah sakit,” jelas Josua, Jumat (4/11/2016).

Josua memastikan Daud tak akan kabur dari rumah sakit. Apalagi, pengawasan di rumah sakit itu cukup ketat. Tak hanya itu, ada beberapa petugas yang mengawasi Daud.

“Pengawalan tetap ada, di rumah sakit juga ada petugas. RS Bina Kasih termasuk standart kita. Sampai kapan dia dirawat, hanya dokter yang tau,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum Daud dan ketiga narapidana lain yang juga dihukum mati, Ayau (40), Lukmansyah Bin Nasrul (36) dan Jimmi Syahputra Bin Rusli (27), Amri SH menyebut pihaknya tengah menempuh upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung (MA). Dia berharap ada keringanan hukuman bagi kliennya.

“Kasusnya masih di kasasi. Untuk Daud dirawat di rumah sakit dia. Kalau sakit, apa lagi yang mau ditahan,” cetus Amri.

Diketahui, majelis hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai Asmar SH menjatuhkan hukuman mati terhadap Daud, Ayau, Lukmansyah Bin Nasrul dan Jimmi Syahputra Bin Rusli.

Keempatnya terdakwa terbukti mengatur penyeludupan sabu seberat 270 kg yang dipasok dari Tiongkok. Mereka bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Keempatnya lantas menempuh upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi(PT) Medan. Namun, majelis hakim tinggi yang diketuai Bantu Ginting menguatkan putusan PN Medan. Keempatnya tetap dijatuhi hukuman mati. (Endang)

Berikan Komentar