HIV/AIDS di Sumut Capai 18.807 Kasus

oleh -447 views

garudaonline, Medan: Pengidap HIV/AIDS di Sumatera Utara (Sumut) masih sangat tinggi. Data yang diperoleh dari Sistem Informasi HIV-AIDS (SIHA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga Desember 2017, tercatat kasus HIV/AIDS di Sumut mencapai 18.807 kasus dengan HIV sebanyak 14.891 dan AIDS sebanyak 3.916.

Sekretaris Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Sumut, Rachmatsyah mengatakan, Sumut termasuk dalam 10 besar provinsi di Indonesia yang memiliki banyak kasus HIV dan AIDS. Penanggulangan HIV/AIDS di Sumut masih memiliki banyak tantangan.
“Sumut berada di posisi ke 7 pengidap HIV/AIDS terbanyak setelah Jawa Tengah. Banyak tantangan yang kita hadapi untuk menanggulangi HIV/AIDS. Ini yang sedang kita fokuskan agar tantangannya perlahan dapat kita atasi,” kata Rachmatsyah, Jumat 30 November 2018.
Rachmatsyah memaparkan, tantangan yang dihadapi adalah belum semua kabupaten/kota di Sumut membentuk KPA sebagai lembaga koordinasi penanggulangan HIV dan AIDS. Selain itu, belum semua dinas di lingkungan Pemprov Sumut juga mengalokasikan anggarannya untuk penanggulangan HIV dan AIDS.
“KPA Provinsi dan kabupaten/kota yang aktif dalam penanggulangan HIV dan AIDS masih belum memiliki anggaran yang cukup untuk melakukan upaya penanggulangan secara maksimal,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurut Rachmatsyah, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) masih mengalami stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Bahkan perkembangan kasus HIV/AIDS masih didominasi usia produktif, dengan faktor risiko utama hubungan seksual.
“Penemuan ODHA yang harus mendapatkan CST (Care. Support dan Treatment) juga mengalami kendala. Terakhir, masih banyak masyarakat yang tidak berani menggunakan sarana kesehatan yang ada untuk mengetahui status HIV/AIDS yang diidapnya,” paparnya.
Menurut Rachmatsyah, tantangan-tantangan ini tentunya sangat perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, baik jajaran pemerintahan maupun masyarakat secara komprehensif dan momentum di peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2018 yang diperingati setiap tanggal 1 Desember.
“Ini untuk mendorong masyarakat supaya menghindari semua faktor risiko penularan HIV dan memberanikan diri untuk mengetahui status HlV-nya demi mendapatkan treatment yang Iebih dini, sehingga penularan dapat ditanggulangi Iebih cepat dan kehidupan sosial-pun akan benjalan dengan normal,” pungkasnya (voshkie)
Berikan Komentar