Dirut PT Bank Sumut Bersaksi Disidang Kasus Sewa Menyewa Mobil

oleh -284 views

garudaonline, Medan | Direktur Utama (Dirut) PT Bank Sumut, Edie Rizliyanto bersaksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sewa menyewa 294 unit mobil dinas operasional senilai Rp 21 miliar yang bersumber dari Rencana Kegiatan Anggaran Tahunan (RKAT) Tahun 2013 untuk terdakwa Muhammad Yahya selaku mantan Direktur Operasional (Dirops) PT Bank Sumut dan M Jefri Sitindaon selaku mantan Asisten III Divisi Umum PT Bank Sumut sekaligus Ketua Panitia Pengadaan di Ruang Cakra VII Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (24/11/2016).

Dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Achmad Sayuti itu. Edie menjelaskan, dirinya diangkat menjadi Direktur Bisnis dan Syariah PT Bank Sumut pada Januari 2014 serta Februari 2014 baru aktif bertugas.

Menurut Edie, pada Januari 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapatkan temuan dalam proses pengadaan sewa menyewa mobil dinas di Bank Sumut yang tanpa kontrak. Saat itu, lanjut Edie, OJK menyarankan agar kontrak pengadaan ditandatangani direksi baru.

“Saya tahunya berawal dari temuan OJK pada April 2014. OJK menyarankan kami agar kontrak ditandatangani direksi baru,” lanjutnya.

Diungkapkan Edie, sebelumnya kontrak awalnya hanya ditandatangani oleh terdakwa Yahya. Karena kontrak tidak bisa hanya ditandatangani oleh satu direksi, maka Edie dan Ester Junita Ginting juga turut menandatangani kontrak tersebut.

“Karena sifatnya kolektif kolegial. Kami percaya sama direksi yang membidangi pengadaan itu karena sudah menguasainya,” ungkapnya.

Saat ditanya kenapa penandatanganan kontrak molor berbulan-bulan, Edie mengaku ada ketidaksepahaman antar direksi. Bahkan, ia mendapat informasi ada usulan jangka waktu kontrak ditambah menjadi 3 tahun. Namun, Edie tidak mengetahui pasti darimana usulan tersebut.

Pria yang menjabat sebagai Dirut PT Bank Sumut pada tangga 6 Maret 2015 ini mengaku tidak mengetahui teknis proses pelaksanaan pengadaan tersebut. Edie menerangkan, bahwa mobil diserahkan CV Surya Pratama ke Bank Sumut pada Februari 2014. Namun, di kontrak, pemakaian jasa mobil berakhir Oktober 2014.

“Pembayaran terakhir dilakukan Desember 2014. Seharusnya kontrak habis pada tanggal 31 Oktober 2014. Dalam pelaksanaannya, kami tidak mengetahui di lapangan kapan mobilnya terakhir kontraknya. Direksi yang membidangi yang mengetahuinya,” terangnya. (Endang)

Berikan Komentar