Dua Perwira dan Seorang Bintara Polres Padangsidimpuan Diperiksa

oleh -153 views

garudaonline, Medan | Selain AKP DS, dua perwira Polisi lainnya berinisial Iptu JH dan Ipda YH serta seorang Bintara berinisial IS, dikabarkan diperiksa tim Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sumut atas kasus dugaan pemerasan terhadap eks personel Ada Band, Eel Ritonga senilai Rp1 miliar.

Kabid Propam Polda Sumut, Kombes Pol, Syamsudin Lubis mengatakan, tim yang langsung turun ke Polres Padangsidimpuan dipimpin langsung Kasubbid Pengamanan Internal (Paminal) AKBP Dayan. Namun, hingga saat ini proses pemeriksaan belum selesai dilakukan.

“Berhubung karena waktu kejadiannya sudah lama baru terungkap, maka perlu pemeriksaan secara intensif. Apalagi para personel yang disebutkan itu sudah ada yang pindah tugas,” kata Syamsudin Lubis, Selasa (25/10).

Syamsudin menjelaskan, penelusuran dilakukan secara komprehensif untuk mengetahui siapa saja saat penyerahan uang tersebut, berapa nilainya dan kemana saja uang itu diberikan.

“Ini harus dapat, itu makanya proses pemeriksaanya butuh waktu. Karena orang-orang yang diperiksa itu tidak hanya tiga atau empat orang saja,” ujarnya.

Menurut dia, hingga saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan duduk perkara kasus tersebut.

“Belum ada kesimpulan, kita tunggu saja dulu tim pulang dari Padangsidimpuan baru
kemudian hasil pemeriksaannya dianalisis. Setelah itu, yang bersangkutan kita sidang di Polda,” sebutnya.

Dia meminta, korban agar memberikan informasi dan data bila masih ada yang belum diserahkan kepada tim Propam. Sebab, untuk membuktikan adanya suatu tindak pelanggaran disiplin yang dilakukan oknum tersebut perlua pembuktian.

“Harapannya kepada korban agar memberikan keterangan dan informasi kepada tim agar kasus ini bisa terungkap,” tukasnya.

Sementara Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, saat ini AKP DS masih menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Padangsidimpuan. Meski diduga telah melakukan pemerasan terhadap salah satu personil Ada Band Eel Ritonga, namun oknum Perwira Pertama (Pama) itu belum dicopot dari jabatannya.

“Yang bersangkutan masih menjabat sebagai Kasat Reskrim, belum ada pencopotan karena proses pemeriksaan masih berlangsung. Tim masih di sana (Polres Sidimpuan). Nanti setelah hasil pemeriksaan selesai dilakukan, barulah langkah selanjutnya ditentukan,” terangnya.

Dia menjelaskan, selain penyelidikan, Propam juga akan melakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

“Jika melanggar kode etik, sanksi hukumnya ada. Apalagi menyangkut pidana umum, sanksi paling tegas itu ada. Namun, semua itu nanti setelah pemeriksaan dan persidangan internal,” paparnya.

Sedangkan untuk proses pencopotan jabatan, kata Rina, perlu pertimbangan dan mekanisme.

“Jika benar melakukan tindak pidana itu, bisa saja sih dicopot dari jabatannya, karena itu semua ada mekanismenya. Tunggu saja,” pungkasnya.

Sebelumnya, mantan personel Ada Band Eel Ritonga mengaku diperas seorang oknum pama berinisial AKP DS yang kini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Padangsidimpuan senilai Rp1 miliar, berdasarkan laporan pengaduan Nomor : LP/151/III/2014/SU/SPKT, pada 17 Maret 2014, dengan terlapor M Amru Mukto Ritonga, saudara dari Eel Ritonga, atas dugaan penggelapan uang harta warisan.

Dalam laporan itu, M Amru Mukto dituduh menggelapkan uang harta warisan saudara tirinya senilai Rp3 miliar. Merasa tidak bersalah, M Amru Mukto kemudian menyerahkan dan mengembalikan uang itu kepada ahli waris di Mega Permata Hotel, Jalan Imam Binjol, Kota Padangsidimpuan pada tahun 2014 lalu.

Namun, AKP DS langsung ‘merampas’ uang tersebut senilai Rp1 miliar yang disebutnya sebagai fee atas kasus dugaan penggelapan. Karena itu, kasusnya dilaporkan ke Divisi Propam Mabes Polri. Namun, kemudian penanganannya dilimpahkan ke Bid Propam Polda Sumut. (g/10)

Berikan Komentar