Kasus Sabu 2 Kg, Saksi Tak Bisa Buktikan Keterlibatan Terdakwa

oleh -187 views

garudaonline – Medan | Majelis hakim terlihat kesal melihat sikap Zul Ardi Harahap, terdakwa kasus pemilikan sabu seberat 2 kg dalam persidangan yang berlangsung diruang Cakra III Pengadilan Negeri Medan, Selasa (6/12/2016).‬

Ini bermula, dari keterangan terdakwa Zul Ardi Harahap yang menjadi saksi untuk Tabrani.‬ ‪Dalam kesaksiannya Zul Ardi mengaku kalau sabu seberat 2 kg merupakan milik Tabrani yang dititipkan ke dalam Ruko yang disewa oleh Zul Ardi. “Barang itu milik Tabrani, dia titip ama saya,” ungkapnya.‬

Akan tetapi, Zul tidak bisa menunjukan bukti bahwasanya itu barang milik Tabrani. Bahkan saat salah seorang anggota majelis hakim, Erintuah Damanik menanyakan apakah Zul Ardi kenal dengan Tabrani. “Apakah saksi kenal dengan Tabrani, kalau kenal dimana,” tanya Erintuah.

Menjawab itu Zul, mulai gelisah bahkan sebelum menjawab melirik penuntut umum, kemudian menjawab tidak kenal dengan Tabrani hanya melalui telephon itu urusan bisnis yang dikenalkan oleh Simbolon yang juga pelaku dalam kasus ini.

Lanjut hakim anggota lagi, kalau terdakwa tak kenal lalu siapa yang memberikan bungkusan paket itu dan kenapa Simbolon tidak dihadirkan.

“Dia (Simbolon, red) udah meninggal pak hakim karena serangan jantung,” ucap Zul lagi sembari dibenarkan penuntut umum Yunitri Sagala.

Lebih lanjut, Ketua Majelis Hakim kembali melanjutkan pertanyaan apakah sewaktu penggrebekan oleh Satresnarkoba Polrestabes Medan, apakah terdakwa Tabrani ada di lokasi?.

Zul terlihat linglung mungkin ada pak. Mendengar itu majelis pun menanyakan kembali “Lho kok mungkin aneh terdakwa ini,” sebut hakim.

Karena keterangan Zul yang berbelit maka hakim pun menyelesaikan pertanyaan kepada Zul, dan kemudian memanggil Tabrani untuk diperiksa keterangannya sebagai terdakwa untuk dimintai keterangannya.

Dalam keterangannya, Tabrani menolak seluruh isi BAP dari penyidik Polrestabes Medan.

“Ini tak benar pak hakim, saat itu polisi menangkap saya di rumah di IDI, Aceh. Waktu itu sejumlah uang Rp 145 juta, sejumlah dokumen juga disita,” bebernya.

Masih dalam keterangan Tabrani, bahwa dirinya mengenal Zul Ardi karena dibawa oleh Simbolon untuk menemui dirinya.

Pertemuan itu hanya dalam pembahasan proyek, bahkan alamat kontrakan Zul Ardi pun terdakwa tidak mengetahui.

“Saya tak tahu alamat rumah Zul Ardi yang juga terdakwa dalam kasus tersebut. Tapi anehnya malahan saya yang ditunding ikut bermain sabu,” pungkasnya.

Ini pun sudah saya sampai kepada penyidik kalau barang itu bukanlah miliknya tapi penyidik tetap mendakwanya. Tabrani merasa dipojokkan karena Zul terus menyebutkan dirinya kenal melalui Simbolon.

“Kalau Simbolon saya kenal namun dengan si Zul tak kenal. Dan perkenalan itu sebatas rekan bisnis saja,” katanya.

Soal mobil yang disita polisi sebagaimana disampaikan Zul bahwa mobil itu disita saat penggrebekan, Tabrani menyatakan tak benar.

“Tak benar pak hakim, mobil saya dibengkel jadi mana mungkin ada di lokasi. Lihat saja masih ada bekas catnya,” jelasnya.

Selain itu soal uang sebanyak Rp 145 juta, adalah hasil dari penjualan meubel bukan kasus sabu. “Itu bisa dibuktikan pak hakim. Itu bukan transaksi sabu,” urainya.

Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, maka majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan. Usai persidangan, Johan Wijaya dan Harifa dari kantor Advokat Tjunhin, mengatakan bahwa klien korban dalam kasus ini.

“Kalau dilihat, ini ada unsur sakit hati dalam urusan bisnis. Sehingga klien kami dilibatkan dalam kasus narkoba. Penangkapan dilakukan saat Tabrani berada di rumahnya dikawasan IDI, Aceh, Dan tak sabu pada waktu itu,” ucapnya.

(Fidel)

Berikan Komentar