Ketua MK: Tak Ada Tradisi Makar di Indonesia

oleh -113 views

garudaonline – Jakarta | Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat menilai menjatuhkan Presiden di Indonesia sangatlah sulit. Apalagi, saat ini Indonesia menganut sistem presidensial sehingga menjatuhkan Presiden melalui pemakzulan sangat susah sekali.
“Apalagi, di Indonesia juga tak ada tradisi makar,” kata Arief Hidayat di Semarang, Sabtu 10 Desember 2016.

Arief menyatakan memang seorang presiden di Indonesia bisa dijatuhkan. Salah satunya harus melalui impeachmen. Namun, proses impecmant sangat panjang. Arief menyatakan impechman itu dimulai dari pendapat DPR yang harus memutuskan bahwa presiden melanggar hukum, UUD 1945, maupun peraturan perundangan. “Pelanggaran itu harus murni hukum. Bukan kasus politik,” kata Arief.

Jika DPR menganggap bahwa presiden betul-betul melanggar maka harus mengajukan memorandum ke Mahkamah Konstitusi. MK akan menggelar persidangan memorandum dari DPR itu. Setelah MK menilai salah atau tidaknya presiden maka putusannya akan diserahkan MPR. Melalui sidang di MPR-lah yang akan menentukan nasib seorang presiden.

Sebelumnya, polisi menangkap 11 orang di lokasi berbeda pada Jumat dinihari hingga pagi, 2 Desember 2016. Di antaranya adalah Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan Ahmad Dhani. Mereka diduga terlibat dalam permufakatan jahat hendak menggulingkan pemerintah yang sah. Mereka diduga hendak menggerakkan massa Aksi Bela Islam III yang menggelar doa bersama di Monas untuk menduduki DPR-MPR. Sedangkan Hatta Taliwang ditangkap pada Kamis dinihari, 8 Desember 2016. Dia diduga berhubungan dengan rencana Rachma dan kawan-kawan.

Arief menyatakan jika polisi menemukan alat bukti yang cukup maka para pelaku harus diproses hukum.(TM)

Berikan Komentar