Sakit, Direktur Pemasaran dan Komisaris PT Bank Sumut Batal Hadiri Sidang

oleh -217 views

garudaonline, Medan | Direktur Pemasaran PT Bank Sumut, Ester Junita Ginting dan Komisaris PT Bank Sumut, Rizal F Hasibuan batal bersaksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan 294 unit mobil dinas operasional di Bank Sumut senilai Rp 17 miliar yang bersumber dari Rencana Anggaran Kerja (RAK) Tahun 2013 di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (14/11/2016).

Kedua pejabat di PT Bank Sumut itu tidak menghadiri panggilan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Netty Silaen dengan alasan sakit. Anehnya, mereka berdua kompak sakit dan surat sakitnya sama-sama dari Rumah Sakit (RS) Columbia Asia. Dalam surat sakit tersebut, Ester dan Rizal juga sama-sama izin selama dua hari terhitung dari tanggal 14 dan 15 November 2016.

“Ester Junita Ginting dan Rizal F Hasibuan tidak menghadiri sidang dan menyertakan surat sakit dari RS Columbia Asia. Aneh kan, surat sakitnya dari rumah sakit sama dan waktunya juga sama-sama dua hari,” kata Netty saat diwawancarai wartawan. Netty mengaku akan mengirim surat panggilan berikutnya terhadap kedua pejabat PT Bank Sumut itu.

Dalam persidangan di Ruang Cakra VII Pengadilan Tipikor pada PN Medan, Senin (14/11) malam itu, JPU Netty menghadirkan Irwan Pulungan selaku Pimpinan Divisi Umum Bank Sumut bersaksi untuk terdakwa Muhammad Yahya selaku mantan Direktur Operasional (Dirops) Bank Sumut dan M Jefri Sitindaon selaku mantan Asisten III Divisi Umum Bank Sumut.

Majelis hakim yang diketuai Achmad Sayuti sempat memarahi Irwan Pulungan yang juga tersangka dalam kasus ini, karena memberikan keterangan berbelit-belit. “Kamu saksi (Irwan) jangan memberikan keterangan berbelit-belit. Ingat ya saksi ada ancaman jika saksi beri keterangan palsu yakni 7 tahun penjara,” ucap hakim Achmad Sayuti dengan nada tinggi.

Irwan Pulungan tetap saja memberikan keterangan yang dianggap berbelit- belit. Hakim mempertanyakan apa dasar perpanjangan kontrak yang dibuat tersebut. “Yang saya tahu itu dari Direksi Operasional dan Direksi pemasaran,” jawab saksi.

Hakim kembali mempertanyakan. “Apakah saudara saksi tahu jika kontrak sudah ditanda tangani dan mobil sudah ada, sementara uang belum ada. Hanya mengharapkan untung. Apakah saudara tahu resikonya,” tanya hakim.

Mendengar itu, Irwan Pulungan hanya diam. Hakim kembali marah ketika ditanya soal saksi yang menandatangani SPK. “Kamu tidak berhak tandatangan SPK dan mengeluarkan SPK,” tegas hakim. (Endang)

Berikan Komentar