Sudahlah Anaknya Dicabuli, Diancam Bunuh Pula

oleh -226 views

garudaonline – Siantar | L boru Pasaribu, ibu dari NNR (15) korban pencabulan terhadap anak dibawah umur yang dilakukan oleh Jasmen Saragih (52) yang tidak lain mantan ketua Forum Keadilan Masyarakat Tani (Fokrat) Siantar-Simalungun menginginkan bersangkutan dihukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak (UU PA).

Apabila tidak di hukum seadil-adil, ibu korban menilai generasi muda sekarang akan hancur. Diceritakannya, anaknya yang menjadi korban pencabulan dari Jasmen sebanyak 4 kali karena pada saat kejadian itu, anaknya di ancam akan dibunuh apabila dilaporkan kepada orang tuanya.

“Kata si Jasmen ‘kalau dikasih tahukan kepada orangtuamu, akan kubunuh kau’. Begitu kata si Jasmen ke anakku. Diancamnya anakku dibunuh makanya pas di cabuli pertama gak langsung dikasih tahunya,” ucapnya, Selasa (8/11/2016) di Pengadilan Negeri (PN) Siantar.

Dibalik ancaman kepada anaknya tersebut, ia mengatakan bahwa ada seseorang yang menyuruh anaknya untuk selalu pergi bersama Jasmen Saragih. Boru Pasaribu ini mengibaratkan adanya ‘mak comblang’ antara Jasmen dan anaknya.

“Mak coblangnya yaitu L boru N. Kan mana mungkin L boru N mengaku. L boru N inilah yang selalu menyuruh anakku pergi bersama Jasmen. Entah pergilah beli nasi goreng. Anakku tidak pernah bekerja bersama L boru N. Selama sekolah, anakku tidak pernah ku suruh bekerja,” ujarnya.

Dijelaskanya, bahwa ia dulu tinggal dirumah Jasmen Saragih. Saat itu ia masih jualan ke Cikampak. Sementara anaknya dititip ditempat L boru N. Tapi setelah dititip, ada hal aneh karena anaknya tidak mau pulang kerumah lagi. Padahal ia sudah tidak jualan lagi ke Cikampak.

“Saat mau ku ambil anakku, disitu melawan dia. Ku ambil handphone (hp) nya. Habis lari si anakku, ada kulihat SMS yang isinya ‘kalau datang keluargamu, lari saja kau, telpon aku’. Karena anakku sudah tidak tampak, ya aku melaporlah ke Polsek Siantar Martoba. Diarahkan ke Polres Siantar. Melaporlah aku bahwa anakku tidak kembali,” ujar L boru Pasaribu.

Saat itu ia coba menghubungi via telepon, kadang diangkat tapi tanpa jawaban. Terus ada sebuah SMS yang berisi ‘kalau soal jual diri, sudah saya lakukan sejak SMP’. Tapi ia merasa bahwa yang mengirim SMS tersebut bukanlah anaknya. Lalu, beberapa waktu kemudian, anaknya mengangkat telepon tersebut dan mengatakan bahwa ia sudah jauh serta agar tidak dicari lagi.

“Sesudah kembali anakku, ceritalah semua dia. Sesudah cerita, melapor lah aku bahwa anakku dicabuli. Aku melapor ke Polres tanggal 8 bulan 2 tahun 2013,” tutup ibu korban ini.

Diketahui dalam dakwaan bahwa terdakwa pada pertengahan bulan November 2012 menjemput korban NNR yang saat itu berusia 15 tahun dicabuli di sebuah penginapan Karang Anyer.

Kedua kalinya terdakwa mencabuli serta memperkosa korban pada akhir bulan November 2012, di dalam mobil Toyota Rush nomor polisi (nopol) BK 130 TO di depan Universitas Simalungun (USI), Jalan Sisingamangaraja.

Ketiga kalinya pada Desember 2012, terdakwa kembali melakukan pemerkosaan di Jalan Tuan Rondahaim, Kelurahan Tanjung Pinggir. Dan keempat kalinya pada Minggu (27/1/2016) sekira pukul 12.00 WIB, terdakwa tindakan pemerkosaan terhadap korban di penginapan Sikhar, Jalan Viyata Yudha, Kecamatan Siantar Sitalasari.

Adapun, terdakwa dikenakan pasal primair sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 81 ayat (1) Undang-Undang (UU) RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 64 ayat (1) KUHP. Dalam subsider terdakwa dikenakan pasal 81 ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2002 jo pasal 64 ayat (1) KUHP dan lebih subsidair terdakwa dikenakan pasal 82 UU Nomor 23Tahun 2002 jo pasal 64 ayat (1) KUHP.(bbs)

Berikan Komentar