Terdakwa Kasus Penggelapan Uang PT BAS Rp2 M Divonis 2 Tahun

oleh -357 views

garudaonline, Medan | Dinyatakan terbukti melakukan penggelapan dalam jabatan sebesar Rp 2 miliar terhadap Nuraini selaku Direktur Utama (Dirut) PT BAS (Bumi Andalas Sentosa), Johan (36) divonis majelis hakim yang diketuai oleh Richard Silalahi selama 2 tahun penjara.

Warga Jalan Bersama Ujung Komplek Griya Albania Blok G No 89, Kecamatan Medan Tembung itu dinggap hakim melanggar Pasal 374 KUHPidana Tentang Penggelapan Dalam Jabatan. Putusan itu benarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sindu Hutomo.

“Iya benar, terdakwa Johan sudah divonis selama 2 tahun,” katanya saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (15/10). Putusan itu lebih rendah dari tuntutan JPU selama 3 tahun penjara.

“Kita tuntut 3 tahun,” tambah JPU dari Kejari Medan tersebut. Atas putusan tersebut, JPU Sindu dan terdakwa mengaku menerimanya. “Kan putusannya pas 2/3,” ucap Sindu.

Dalam dakwaan JPU, pada tanggal 30 Januari 2016, Nuraini menghubungi Julianto yang sebelumnya telah menjalin kerjasama jual beli Inti Sawit (Palm Kernel).

Dalam pembicaraan itu, lanjut JPU, Nuraini mengatakan jika Palm Kernel milik PT Bumi Andalas Sentosa sudah bisa diambil dari gudang di Komplek Pergudangan Bukit Intan Abadi, Jalan Plantina Raya Rumput Kecamatan Medan Deli.

“Johan pernah bekerja sebagai Direktur Operasional PT Bumi Andalas Sentosa dan telah mengundurkan diri dari jabatannya sejak 28 Agustus 2015. Tapi, Nuraini masih meminta terdakwa untuk mengawasi dan mengontrol serta mengawal barang yang dibeli maupun dijual oleh PT Bumi Andalas Sentosa,” tandas JPU.

Selanjutnya, Julianto menghubungi Nuraini dan mengatakan kalau dirinya setuju untuk membeli Palm Kernel tersebut. Pada tanggal 1 dan 2 Februari 2016, kernel sawit milik PT Bumi Andalas Sentosa sebanyak 1.200 ton yang terdapat di dalam gudang dipindahkan menuju gudang milik Julianto di Marelan dengan diawasi oleh terdakwa.

Setelah itu, Julianto meminta kontrak jual beli kernel sawit tersebut kepada Nuraini.

“Nuraini mengatakan jika terdakwa akan membawa kontrak tersebut ke saksi Julianto,” lanjut JPU. Meski surat kontrak jual beli sudah disiapkan oleh PT Bumi Andalas Sentosa, sambung JPU, namun kontrak bernilai Rp 4,2 miliar itu tak pernah diambil oleh terdakwa.

“Terdakwa pergi menemui Julianto dan menyerahkan kontrak jual beli atas nama terdakwa sendiri sekaligus memberikan nomor rekening miliknya,” ujar JPU.

Pada tanggal 3 Februari 2016, Julianto mengirimkan uang Rp 1,5 miliar ke rekening BCA atas nama Johan. Kemudian, pada tanggal 6 Februari 2016, Julianto kembali mengirimkan uang Rp 500 juta ke rekening yang sama sebagai angsuran membeli kernel sawit 1.200 ton.

Di hari yang sama, Julianto menghubungi Nuraini dan memohon tempo waktu untuk pelunasan sisa pembayaran.

“Nuraini yang merasa Julianto belum ada melakukan pembayaran mencoba mengkonfirmasi ke bagian keuangan perusahaan maupun Julianto. Disitu, Julianto mengatakan bahwa dirinya telah mengirimkan uang pembayaran Rp 2 miliar ke rekening terdakwa sesuai isi dari kontrak jual beli yang diserahkan Johan,” cetus JPU. Nuraini yang merasa ditipu, melaporkan Johan ke pihak kepolisian. (Endang)

Berikan Komentar