Impor Bahan Baku Lesu, Pemerintah Sebut Faktor Musiman

oleh -49 views

garudaonline, Jakarta: Pemerintah mengaku tak khawatir kinerja sektor perindustrian akan melambat lantaran impor bahan baku turun pada Mei 2019. Bahkan, pemerintah melihat penurunan hanya karena faktor musiman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi nilai impor bahan baku dan penolong turun 7,82 persen secara bulanan menjadi US$10,66 miliar pada Mei 2019. Bahkan, nilai impor juga turun 19,13 persen secara tahunan.

Sementara, nilai impor konsumsi naik 5,62 persen secara bulanan menjadi US$1,54 miliar pada bulan yang sama. Kendati demikian, impor konsumsi menurun sekitar 10,86 persen secara tahunan bila dibandingkan Mei 2018.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melihat penurunan nilai impor bahan baku tak mengkhawatirkan. Apalagi, sampai memberi indikasi roda industri akan melaju lebih pelan ke depan.

“Jangan dilihat sebulan saja. Bulan ini ya masih begitu, tapi bulan depan bisa saja impornya naik,” ujar Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/6).

Menurutnya, penurunan terjadi karena pengaruh faktor musiman yang mempengaruhi kinerja industri. Misalnya, momen Ramadan dan libur Lebaran yang cukup panjang.

Hal itu membuat industri memesan impor bahan baku dan penolong yang lebih sedikit. “Karena memang ini ekonominya saja, jadi bulan depan bisa lain ceritanya,” jelasnya.

Senada, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sejatinya sejumlah industri melakukan penambahan produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada bulan lalu. Namun, ia tidak menjelaskan lebih rinci, sektor industri mana saja yang sekiranya menambah produksi.

Ia menilai penambahan produksi seharusnya menambah volume impor bahan baku dan penolong. “Tapi kami lihat terus yang mananya,” imbuhnya kepada awak media.

Sementara, Kepala BPS Suhariyanto turut mengamini bahwa penurunan nilai impor bahan baku dan penolong tidak akan mengganggu laju roda industri. Sebab, menurut BPS, impor tersebut sejatinya masih cukup tumbuh secara volume.

“Pemerintah kan sudah sepakat batasi sekitar 1.140 barang impor yang sekiranya bisa diproduksi di dalam negeri,” tuturnya.

Bahkan BPS melihat peluang industri tumbuh stabil cukup besar, yakni di kisaran 4 persen sampai 5 persen. “Toh memang ada indikasi pelemahan ekonomi, tapi konsumsi kan masih bagus, inflasi terkendali,” ucapnya.

Pembatasan Impor

Kendati begitu, Darmin menampik bila penurunan impor semata-mata hanya terjadi karena kebijakan pengurangan impor pemerintah. Ia menegaskan hal ini murni karena perkembangan ekonomi.

Sementara itu, Airlangga mengatakan kementeriannya memang akan melihat kembali kebijakan pengurangan impor. “Nanti kami lihat, memang ada beberapa yang sedang kami evaluasi,” pungkasnya. (CNN/dfn)

Berikan Komentar