Jaksa Tuntut Ramadhan Pohan 3 Tahun Penjara

oleh -274 views

garudaonline – Medan | Bekas Calon Wali Kota Medan Ramadhan Pohan dituntut selama tiga tahun penjara. Dia dianggap bersalah melakukan tindak pidana penipuan terhadap Rotua Hotnida Boru Simanjuntak dan Laurenz Hendry Hamongan Sianipar senilai Rp 15,3 miliar.

“Meminta agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan hukuman selama tiga tahun penjara,” kata Jaksa Penuntut Umum Emmy SH dalam persidangan yang digelar di Ruang Utama Gedung Pengadilan Negeri Medan, Kamis 7 September 2017.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik, JPU juga meminta kepada majelis hakim agar mantan calon Wali Kota Medan itu dilakukan penahanan. Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 378 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1, jo Pasal 65 Ayat (1) ke-1 KHUPidana.

Hal-hal yang memberatkan, JPU menilai terdakwa tidak mengakui perbuatannya, selama persidangan terdakwa kerap berbelit-belit memberikan keterangan. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum.

Usai mendengar nota Tuntutan JPU, majelis hakim kemudian menunda persidangan hingga 28 Agustus 2017 untuk agenda pembelaan terdakwa. Sementara Ramadhan Pohan tampak terkejut mendengar tuntutan JPU tersebut. Sedangkan tuntutan untuk Savita Linda dijadwalkan 8 September 2017.

Sebelumnya dalam dakwaan JPU, Ramadhan Pohan bersama Savita Linda melakukan penipuan dengan korbannya adalah Rotua Hotnida Boru Simanjuntak dan Laurenz Hendry Hamongan Sianipar. Dua korban yang berstatus ibu dan anak ini mengalami kerugian dengan total Rp15,3 Miliar.

Dari sejumlah pertemuan, kedua korban mengaku terbujuk rayu dan janji hingga mau memberikan uang sebesar Rp15,3 Miliar. Dana tersebut digunakan untuk kepentingan Ramadhan Pohan yang maju dalam Pilkada sebagai calon Wali Kota Medan 2016-2021.

Korban Rotua Hotnida Simanjuntak mengaku Savita Linda Hora Panjaitan yang mengenalkankannya dengan Ramadhan Pohan. Linda terus menerus membujuknya untuk meminjam uang.

Agar mendapat pinjaman, Ramadhan Pohan dan Linda membawa-bawa nama Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan para jenderal di Jakarta serta Ibas Yudhoyono. Terdakwa menyebutkan jika uang kiriman sudah datang dari Jakarta.

Lalu uang diserahkan secara bertahap di posko pemenangan pasangan Ramadhan Pohan yang berpasangan dengan Eddy Kusuma (REDI). Dengan perjanjian akan mengembalikan uang tersebut bersama bunganya. Setelah Ramadhan Pohan tidak terpilih dalam Pilkada Medan, kedua korban meminta kembali uangnya.

Namun janji tinggal janji, bahkan cek yang diberikan Ramadhan Pohan tersebut tidak dapat dicairkan karena dananya tidak cukup. Apalagi, Ramadhan selalu mengelak saat ditagih pembayaran.

(Fidel)

Berikan Komentar