Kapolri Jenderal Tito Karnavian Dikukuhkan sebagai Guru Besar STIK – PTIK

oleh -367 views

garudaonline -Jakarta | Kapolri Jenderal Polisi Drs H Muhammad Tito Karnavian MA Phd, Kamis (26/10/2017) dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kepolisian Studi Strategis Kajian Kontra Terorisme di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian STIK – PTIK.

Kabag Penum Ropenma Divhumas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul dalam siaran persnya diterima wartawan menyebutkan, acara pengukuhan dilakukan dalam sidang senat terbuka oleh Ketua STIK – PTIK Irjen Pol Remigius Sigid Tri Hardjanto.

Sementara pernyataan pengukuhan dilakukan oleh Irjen Pol Prof Dr Iza Fadri SH MH selaku perwakilan guru besar pada senat akademik.

Acara yang digelar di Auditorium STIK, Jalan Tirtayasa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini juga dihadiri Menteri Ristek Dikti Prof Dr Mohammad Nasir, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.

Tampak pula Jaksa Agung HM Prasetyo, Ketua DPR Setya Novanto, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Ketua MUI Maaruf Amin, Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Badrodin Haiti, dan Jenderal (Purn) Sutarman.

Seperti diketahui, Muhammad Tito Karnavian lahir di Palembang, 26 Oktober 1964. Setelah tamat SMA di Palembang ia diterima di Akademi Kepolisian dan lulus tahun 1987 sebagai penerima Bintang Adhi Makayasa, penghargaan yang diberikan bagi lulusan terbaik Akademi Kepolisian.

Penugasan pertama di Polda Metro Jaya sebagai perwira reserse. Tahun 1992 mendapat bea siswa dari The British Council untuk program Master in Police Studies. Sistem pendidikan di Inggris yang tidak mengenal SI seperti di Indonesia memungkinkannya untuk mengikuti program S2 di University of Exeter, Inggris dan lulus dengan gelar MA di tahun 1993.

Tahun 1994- 1996 Tito mengikuti pendidikan kedinasan PTIK dan lulus sebagai peserta terbaik. Pada tahun 1998 tawaran dari pemerintah New Zealand kepada Polri untuk program Sesko ia peroleh dan lulus sekaligus menyandang BA dalam bidang Strategic Studies, karena kerjasama Sesko New Zealand dengan Massey University, salah satu universitas ternama di negara itu.

Pada tahun 2000, Tito mengikuti program penyamaan Sesko luar negeri di Sespimpol Lembang Bandung. Setelah itu Tito banyak bertugas di jajaran Reserse Polda Metro Jaya dan Sulawesi Selatan, serta Kapolres di Serang, Banten.

Pada tahun 2005-2007 ia memimpin operasi kontra terorisme di Poso Sulawesi Tengah. Operasi ini sukses menangkap puluhan tersangka, mengungkap puluhan kasus kekerasan dan jaringan radikal yang beroperasi disana. Pengalaman ini membuahkan buku “Indonesian Top Secret” terbitan Gramedia yang ditulis Tito dan rekan-rekannya dalam operasi tersebut.

Pada tahun 2008, Tito mendapat beasiswa pada program PhD bidang Strategic Studies yang merupakan anak cabang dari disiplin ilmu Politik Internasional di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapore.

NTU merupakan universitas yang masuk dalam kategori 100 universitas terbaik dunia dan 20 besar universitas terbaik di Asia. Sedangkan RSIS sendiri masuk dalam kategori 50 think-tank terbaik di dunia dan nomor 3 di Asia.

Tertarik dengan dunia terorisme dan insurgensi, Tito menulis disertasi tentang Insurgensi Islamis yang masih belum banyak diekslorasi dalam literatur Strategic Studies, dengan studi kasus gerakan al Jamaah al Islamiyyah.

Pada bulan April 2013 ia berhasil mempertahankan disertasinya dan memperoleh gelar PhD dengan penghargaan 2nd Class Upper (setingkat Magna Cum Laude dengan GPA 4.25) pada 8 Mei 2013.

Tahun 2011 Tito juga menyelesaikan pendidikan Lemhannasnya dengan predikat penerima Bintang Seroja lulusan terbaik.

Pernah menjabat sebagai Kadensus 88 Anti Terorisme, Deputi Penindakan pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kapolda Papua, Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran, Kapolda Metro Jaya.

Pada tanggal 13 Juli 2016 dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(rel/iwan)

Berikan Komentar