Kasus Huawei Pengaruhi Pasar, Bursa Saham Asia dan AS Kompak Rontok

oleh -197 views

garudaonline, Jakarta: Bursa saham di kawasan Asia dan Amerika Serikat kompak melorot, terdera ketidakpastian kesepakatan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China. Hal itu justru diperparah dengan masalah dugaan tindak kriminal perusahaan raksasa telekomunikasi Negeri Tirai Bambu, Huawei.

“Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang berada di zona merah dan menghasilkan kerugian yang besar, ketika pasar regional lainnya dibuka,” demikian dikutip dari Reuters, Selasa (29/1).

Indeks Australia dan Selandia Baru memimpin kerugian, dengan indeks acuan masing-masing turun 0,7 persen, sementara indeks KOSPI Korea Selatan turun 0,3 persen. Bursa saham China juga dibuka di zona merah, dengan indeks blue-chip turun 0,2 persen. Terakhir, Bursa Nikkei Jepang melorot sekitar 1 persen.

Di Amerika Serikat, saham-sama di Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan Senin (28/1) waktu setempat, karena investor merespons laporan kinerja laba perusahaan publik raksasa yang melemah dari periode sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 208,98 poin atau 0,84 persen, berakhir di 24.528 poin. Indeks S&P 500 turun 20,91 poin atau 0,78 persen, menjadi berakhir di 2.643 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 79,18 poin atau 1,11 persen, menjadi 7.085 poin.

Harga saham Caterpillar anjlok 9,13 persen, setelah raksasa industri itu membukukan penurunan laba bersih pada kuartal IV 2018, dan tercatat sebagai perolehan untung terburuk sejak 2011. Perusahaan mesin konstruksi itu melaporkan pendapatan kuartalan sebesar US$14,3 miliar, dan laba per saham US$1,78.

Caterpillar dianggap sebagai penentu arah untuk perdagangan global. mengingat perusahaan ini memiliki eksposur luas ke pasar luar negeri.

Tak hanya itu, harga saham Nvidia juga anjlok hampir 14 persen (13,82 persen), setelah produsen chip itu mengalami pemangkasan pendapatan pada kuartal keempat dari US$2,7 miliar menjadi US$2,2 miliar.

Perusahaan mengaitkan pelemahan kinerja keuangan dengan menurunnya permintaan produk chip di China, seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Secara keseluruhan, pergerakan indeks global dipengaruhi sentimen negatif investor saham yang khawatir terhadap ketidakpastian kesepakatan dagang AS dan China. Hal itu diperburuk dengan proses dakwaan pemerintah AS terhadap Huawei.

Huawei dituduh melakukan penipuan bank dan saluran komunikasi untuk menghindari sanksi Iran dan berkonspirasi mencuri rahasia perdagangan dari T-Mobile US Inc.

Persoalan Huawei dapat mengganggu proses kesepakatan perdagangan antara kedua negara yang kini tengah menunggu pertemuan lanjutan. Wakil Perdana Menteri China Liu He rencananya akan bertemu pejabat AS pada Rabu dan Kamis pekan ini. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar