Kematian Jessica di RS Adam Malik Dianggap Tak Wajar, Keluarga Bakal Tempuh Upaya Hukum

oleh -1.292 views

garudaonline – Medan | Piter Simbolon menyesalkan tindakan dokter di RSUP H Adam Malik Medan yang tidak serius menangani pasien. Dia menduga cucunya Jessica Katelieb Br Sianipar (4 tahun 1 bulan) yang meninggal sebulan lalu di rumah sakit milik Kemenkes itu, tak wajar.

Piter Simbolon menceritakan pada 23 Agustus sekira pukul 09.00 WIB, Jessica Katelieb dibawa ke RSUP H Adam Malik Medan lantaran mengalami sesak nafas dan batuk. Bocah ini langsung dibawa ke Ruang IGD untuk mendapat perawatan.

“Di ruang IGD, cucu saya dipasangi infus pada kakinya. Alasan dokter, tidak bisa dipasangi infus di tangan karena badan cucu saya gemuk. Saat itu dokter menyarankan agar tubuh cucu saya dipasangi alat CVC (central vena cateter),” kata Piter Simbolon, Rabu 27 September 2017 di rumahnya Jalan Sei Asahan Nomor 2 Medan.

Keluarga sempat mempertanyakan apakah ada cara selain memasang alat CVC pada Jessica. Bahkan keluarga, kata Piter sempat mempertanyakan pada dokter apa resiko jika alat itu dipasang. Namun saat itu dokter memastikan jika mereka sudah biasa memakai alat tersebut.

“Saya tanya resikonya apa jika dipasang alat itu. Tapi dari pihak dokter bilang mereka sudah biasa tangani ini dan tidak pernah gagal. Kalau pun ada resikonya, dokter bisa mengatasi,” urai Piter.

Kemudian, di saat bersamaan, tim medis menyodorkan kepada keluarga pasien untuk meneken berkas tanpa menjelaskan isi dari berkas itu. Tim medis mendesak orangtua dari pasien untuk segera meneken berkas itu sebab pasien harus langsung dipasangi alat CVC.

“Kesempatan untuk membaca berkas itu pun tidak ada. Hanya disuruh teken, karena alat itu mau cepat dipasang. Setelah diteken, jam 12.00 WIB ternyata alatnya tidak ada. Saat itu cucu saya masih bisa bermain, main handphone dan berdoa pun bisa,” pungkasnya.

Karena alat tidak ada, lanjut Piter, keluarga sempat meminta agar pasien dipindahkan ke rumah sakit lain. Namun pihak dokter menolak karena takut menanggung resiko.

“Padahal yang minta pindah itu keluarga. Saya sempat minta agar cucu saya dipinjamkan oksigen, tapi mereka bilang tidak bisa. Akhirnya cucu saya tetap di rumah sakit itu,” jelasnya.

Empat jam kemudian, alat CVC itu akhirnya datang. Dokter lalu memasang alat CVC itu di tangan sebelah kanan di bawah bahu pasien. Namun dalam hitungan, Jessica langsung meninggal.

“Begitu dipasang, hitungan menit cucu saya meninggal. Ini yang kita tidak bisa terima. Kalau dari awal dijelaskan, itu tidak mungkin terjadi. Kita bingung, mengapa dokter tidak menjelaskan resiko sekecil-kecilnya,” ungkapnya.

Seminggu kemudian, keluarga sempat meminta rekam media pasien. Ternyata rekam medis itu belum ada. Pihak rumah sakit menjanjikan agar keluarga mengambil rekam medis itu pada 4 September sekira pukul 10.00 WIB. Namun ternyata rekam medis itu tak kunjung selesai.

“Saat didatangi, rekam medisnya belum dibuat. Kami hanya diberikan resume. Setelah kejadian ini, keluarga jadi shock. Harapan kami, supaya pejabat pemerintah tahu bagaimana kinerja dokter terlalu sepele bermain-main dengan nyawa manusia. Keluarga melihat ada kejanggalan. Karena itulah kami akan menempuh jalur hukum,” tegasnya.

Terpisah, Humas RSUP H Adam Malik Medan, Ocha mengatakan resume medis dan hasil lab pasien secara lengkap sudah diberikan pada 5 September 2017 kepada Okto Reniska Simbolon sebagai perwakilan kuasa hukum keluarga, juga sebagai tante pasien.

“Semua informasi sudah kami berikan di dalam resume medis. Hasil lab juga lengkap kami berikan. Semua tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai prosedur. Keluarga pasien juga sudah mempertanyakan hal yang sama lewat kuasa hukum dan sudah kami jawab dengan menggunakan resume medis,” bebernya.

(fidel)

Berikan Komentar