Kompol Fahrizal akan Jalani Sidang Internal Kepolisian

oleh -62 views

garudaonline, Medan: Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menyatakan Kompol Fahrizal SI.K terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan yakni menembak mati adik iparnya Jumingan. Akan tetapi mantan Wakapolres Lombok Tengah itu tidak dijatuhi hukuman penjara karena mengalami gangguan jiwa atau skizofrenia paranoid.

Menyusul pembacaan vonis itu, Kompol Fahrizal selanjutnya akan menjalani sidang internal kepolisian. Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan mrnyebutkan, sidang internal, pasti dilakukan meski Kompol Fahrizal tidak dibebankan hukuman pidana

“Kalau sidang internal, pasti dilakukan meski yang bersangkutan tidak dibebankan hukuman pidana,” ungkap Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada wartawan diruangannya, Sabtu (9/2/2019).

Namun, MP Nainggolan belum bisa memastikan tempat pelaksanaan sidang internal Kompol Fahrizal. Sebab, saat peristiwa penembakan adik iparnya Jumingan itu, Kompol Fahrizal bertugas di Lombok Tengah.

“Belum tahu kita di mana sidangnya nanti digelar. Tapi, kalau di Polda NTB, kita (Polda Sumut) akan mengirimkan berkas yang dibutuhkan untuk persidangan itu,” jelasnya.

Sebelumnya, majelis hakim juga memerintahkan agar mantan Kasat Reskrim Polresta Medan itu supaya segera dikeluarkan dari tahanan untuk segera dirawat ke rumah sakit jiwa. Majelis hakim berpendapat, Kompol Fahrizal tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena pada saat kejadian, kondisi kejiwaan terdakwa terganggu.

Sehingga sesuai dengan ketentuan Pasal 44 KUHP jika terdakwa mengalami gangguan jiwa, maka tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana. Putusan yang dijatuhkan majelis hakim sama dengan tuntutan yang diajukan oleh JPU Randi Tambunan dan pembelaan yang dibacakan tim penasehat hukum terdakwa beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan, di rumah orangtuanya di Jalan Tirtosari Gang Keluarga, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Sumut, Rabu 4 April 2018 sekira pukul 19.30 wib malam.

Kompol Fahrizal meletuskan tembakan sebanyak enam kali hingga korban tewas bersimbah darah. Jasad Jumingan kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk otopsi. Kemudian Fahrizal menyerahkan diri ke Polda Sumut.

Dalam persidangan, tim penasehat hukum terdakwa dan sejumlah saksi yang dihadirkan JPU Randi Tambunan menyebutkan bahwa Kompol Fahrizal telah mengalami gangguan jiwa atau skizofrenia paranoid sejak Tahun 2014 atau sebelum peristiwa penembakan terjadi.

“Terdakwa pernah menjalani pengobatan di Klinik Utama Bina Atma pada 5 Agustus 2014, dan kemudian secara berkelanjutan hingga 11 April 2016. Pada waktu itu yang merawat adalah dr Mustafa M Amin dan dr Vita Camelia. Hal ini dapat dibuktikan dari surat yang dikeluarkan pimpinan Klinik Utama Bina Atma yang ditandatangani dr Tapi Harlina MHA tertanggal 16 April 2018,” ujar Julhisman dalam pembelaannya beberapa waktu lalu.

Bahkan setelah peristiwa penembakan terjadi, kata Julhisman, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap eks Wakasat Reskrim Polrestabes Medan ini di RS Jiwa Prof DR Muhammad Ildrem. Dokter yang memeriksa kesehatan terdakwa yakni, Dr Paskawani Siregar tertanggal 23 April 2018 menyebutkan terdakwa mengalami Skizofrenia Paranoid.

Kejadian penembakan pada 4 April 2018 lalu, yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan yang merupakan suami dari adiknya Heny Wulandari tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Terlebih lagi kedatangan terdakwa didampingi istrinya Maya Safira Harahap dari Lombok untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh.

“Bahkan saat peristiwa terjadi, terdakwa mengaku mendengar bisikan gaib, sehingga ia tidak bisa menguasai diri atau kesadarannya pada saat itu,” ungkap Julhisman.

Akan tetapi, meski mengalami Skizofrenia Paranoid sejak 2014, Kompol Fahrizal sempat menduduki sejumlah posisi strategis di jajaran Polda Sumut, seperti Kasat Reskrim Polres Labuhan Batu, Kasat Reskrim Polresta Medan, kemudian menjadi Wakasat Reskrim Polrestabes Medan, sebelum akhirnya menempuh pendidikan Sespim. Terakhir, saat penembakan terjadi, Kompol Fahrizal menjabat sebagai Wakapolres Lombok Tengah. (Voshkie)

Berikan Komentar