Konferensi Internasional Kanker Ganas Karsinoma Dihadiri 1500 Peserta dari 8 Negara

oleh -380 views

garudaonline, Medan: Pusat Unggulan Iptek Karsinoma Nasofaring Universitas Sumatera Utara (PUI KNF USU) menghelat konferensi Internasional yang membahas soal kanker ganas karsinoma.

Konferensi yang berlangsung tanggal 6-7 Desember 2018 ini dihadiri 1500 peserta dari 8 negara. Adapun rincian peserta yang hadir berasal dari disiplin ilmu kesehatan yang diwakili oleh negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand, Timor-timor, Filipina dan Hongkong.

Berdasarkan keterangan panitia, acara ini digelar untuk membahas mengenai kanker ganas pada ‎The 1st International Conference of Nasopharyngeal Carcinoma yang diadakan di Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU).

Ketua Panitia The1stInternational Conference of Nasopharyngeal Carcinoma, Dr. dr. Farhat, M.Ked mengungkapkan dalam acara ini, tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada peneliti, ilmuwan, mahasiswa dan praktisi medis untuk menyajikan dan berbagi inovasi terbaru dalam penelitian medis mengenai karsinoma nasofaring.

‎”Konfrensi ini, ‎‎sebagai wadah kepada peneliti, ilmuwan, mahasiswa dan praktisi medis untuk berdiskusi, berbagi, bertukar pikiran dan memperluas pengetahuan, pandangan, dan kemajuan baru dalam penelitian karsinoma nasofaring,” ucap Farhat dalam pembukaan Konfrensi Internasional tersebut, di Auditorium USU di Medan, Kamis sore, 6 Desember 2018.

Farhat menjelaskan Karsinoma Nasofaring merupakan kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. KNF adalah tumor ganas Telingga, Hidung, Tenggorokan (THT) yang paling banyak dijumpai di Indonesia.

“KNF termasuk lima besar tumor ganas. Sedangkan di daerah kepala dan leher, KNF menduduki tempat pertama dengan persentase hampir 60 persen,” ungkap Farhat.

Farhat menjelaskan ‎PUI KNF USU bekerjasama dengan INDOCAFE FOUNDATION menyelenggara konfrensi ini, merasa perlu untuk terus mengadakan kampanye dan edukasi secara optimal untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya penyakit karsinoma nasofaring.

“Begitu pula pola penanganannya yang perlu dicarikan solusi tercepat untuk tindakan sedini mungkin, sehingga dapat meminimalisir tingkat penderitaan pasien, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya. Diharapkan dengan tema acara ini bilamana para praktisi kesehatan mempunyai pemahaman yang dalam tentang KNF maka para penderita penyakit ini akan dapat memiliki hidup yang lebih sehat dan bermakna,” katanya.

Rektor USU, Prof Runtung Sitepu mengungkapkan melalui The 1st International Conference of Nasopharyngeal Carcinoma digelar bisa digunakan dan diharapkan dosen dan peneliti, khususnya yang berasal dari USU, yang mengikuti kegiatan konferensi dapat melahirkan ide-ide karya-karya tulis ilmiah yang bermanfaat dan berkualitas serta mampu menembus jurnal publikasi ilmiah bereputasi.

“Hal ini, untuk meningkatkan kapasitas keilmuannya. Selain sebagai bagian dari tanggung jawab profesional akademisi dan pelaksanaan salah satu penjabaran dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, juga dapat menjadi wahana penyebaran dan pertukaran informasi ilmiah,” tutur Runtung.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah menjelaskan sebagaimana yang telah di ketahui dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli dan praktisi kesehatan, bahwa Karsinoma Nasofaring merupakan salah satu dari lima jenis penyakit kanker ganas yang sering ditemui di Indonesia.

“Karsinoma Nasofaring merupakan tumor ganas kepala dan leher terbanyak di Indonesia, dengan 60 persen jumlah penderita, diikuti tumor ganas hidung dan sinus paranasal 18% serta laring 16%. Ini tentu bukan jumlah penderita yang sedikit dan membangkitkan keprihatinan kita bersama,” ucap Musa.

Musa mengungkapkan atas ‎pertemuan ini, tentulah diiringi dengan harapan semoga dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang bisa dijadikan terobosan dalam antisipasi dan penanganan penyakit Karsinoma Nasofaring, baik di Indonesia maupun seluruh dunia.

“Selain itu, dengan berkumpulnya para dokter, peneliti dan ahli kesehatan dari dalam dan luar negeri pada kesempatan ini, semoga manfaat dan terobosan baru itu tidak saja berkisar dalam hal penanggulangan dan antisipasi terhadap penyakit Karsinoma Nasofaring, melainkan juga pada peningkatan aspek kesehatan masyarakat secara umum dan keseluruhan, yang pada akhirnya juga dapat menjadi tindakan pencegahan terhadap berbagai jenis penyakit berbahaya lainnya,” jelas Musa.

Ia mengungkapkan satu hal yang sebenarnya patut disadari bersama, bahwa tanggungjawab terhadap peningkatan standar kesehatan masyarakat Indonesia dan juga dunia, bukan hanya menjadi milik para ahli kesehatan. Melainkan juga menjadi tanggungjawab bersama, pihak pemerintah, institusi pendidikan serta kesadaran anggota masyarakat itu sendiri.

“Yang mana hal ini akan membantu program-program pemerintah di bidang kesehatan, yang antara lain untuk meningkatkan aspek kesehatan masyarakat serta meminimalisir berkembangnya penyakit-penyakit berbahaya, yang salah satunya adalah Karsinoma Nasofaring,” sebut Pria disapa dengan Ijeck. (dfnorris)

Berikan Komentar