Umat Hindu Kota Medan Sambut Nyepi dengan Upacara Melasti

oleh -141 views

garudaonline – Medan | Hari ini, Minggu, (3/3/2019), umat Hindu Kota Medan dan sekitarnya melaksanakan upacara Melasti/Mekiyis yakni upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi.

Dalam ritual Hindu, upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam dengan menggunakan air kehidupan.

Biasanya upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu kemudian melarungnya ke laut.

Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).

Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya).

Para pemangku berkeliling dan memercikkan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud pensucian.

Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma. Upacara ini dilaksanakan agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi.

Untuk diketahui, Melasti berasal dari kata Mala = kotoran/leteh, dan Asti = membuang/memusnahkan. Jadi Melasti artinya : membuang dan menghilangkan segala bentuk kotoran untuk bisa kembali ke kesucian.

Melasti dilaksanakan pada tiga atau dua hari sebelum Nyepi. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura termasuk Pratima dan Pralingga diarak ke danau, laut atau pantai.

Kita semua mengetahui bahwa laut merupakan sumber air yang terbesar, dimana seluruh sungai bermuara ke laut, dan dari laut pula asalnya air yang memberikan hidup dibumi ini. Air laut adalah simbul dari penghancur serta penghilang semua kotoran yang ada.

Sebab itu saat mekiyis, kita wajib membersihkan diri lahir bathin, melebur semua bentuk kotoran yang ada baik di dalam maupun diluar diri dan mendapatkan tirtha amerta.

Pelaksanaan Melasti tidak mutlak harus bertempat di laut. Bila di daerah-daerah tertentu yang jauh dari pantai, diperbolehkan Melasti disumber sumber mata air yang bersih seperti danau atau pegunungan.

Hal ini juga tidak bertentangan mengingat mata air yang ada di danau maupun pegunungan, karena sesungguhnya air berasal dari uap air laut yang telah menjadi hujan.

Umat Hindu Medan dan sekitarnya yang berjumlah sekitar 500 orang yang di prakarsai oleh Suka Duka Dirgayusa melaksanakan upacara Melasti tersebut di Pantai Pondok Permai kawasan Pantai Cermin Serdang Bedagai.

Dalam upacara ini turut hadir Pembimas Hindu Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara Bp. Antonikuil Sembiring, Pengurus PHDI Provinsi Sumatera Utara, PHDI Kota Medan, PHDI Deli Serdang, PHDI Serdang Bedagai, WHDI Sumut, ICHI Sumut dan seluruh umat Hindu Kota Medan sekitarnya.

Dalam sambutannya Ketua Suka Duka Dirgayusa Medan Dr. I Wayan Dirgayasa Tangkas mengatakan tahun ini umat yang hadir lebih besar dari yang diperkirakan dan ini merupakan kemajuan besar yang patut untuk diperhatikan dan dipertimbangkan, sehingga menurutnya ramainya umat dapat menguatkan Sradha terhadap ajaran Hindu.

Ketua PHDI Sumut Siwaji Raja, yang diwakili oleh Mathariswan, selaku sekretaris mengatakan PHDI akan terus mensuport materi dan non materi segala kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu Sumut khususnya warga Pura (Bali) jika dibutuhkan.

Mengingat umat Hindu di Sumut terdiri dari berbagai etnis yang memiliki ciri khas ritual keagamaan masing-masing, dan ini merupakan kekayaan non materi yang tak ternilai harganya sehingga sangat perlu untuk dilestarikan.

Melasti adalah tahap awal dari perayaan Nyepi 1941 Saka yang dilanjutkan dengan Pangrupukan (sedekah bumi) tanggal 06 Maret 2019 di Pura masing-masing dan sebagai puncaknya akan dilaksanakan Catur Brata Nyepi pada tanggal 07 Maret 2019 dan Dharma Santi.

(Voshkie)

Berikan Komentar