Dinas Kesehatan Sumut Tetapkan 10 Daerah KLB DBD

oleh -298 views
Kabid PMK Dinkes Sumut dr. Hikmet

garudaonline – Medan | Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tiap tahun terus bertambah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut bahkan menetapkan ada 10 kabupaten/kota yang masuk KLB (Kejadian Luar Biasa) kasus DBD di 2016.

Kabid PMK (Penanggulangan Masalah Kesehatan) Dinkes Sumut dr Hikmet mengatakan daerah yang KLB di 2016 antara lain Deliserdang ada 977 penderita dan dua orang meninggal, Karo ada 360 kasus, Asahan ada 574 kasus dan 15 orang meninggal, Dairi 275 penderita dan satu orang meninggal.

Kemudian Nias Selatan ada 44 menderita dan 3 orang meninggal, PakpK Bharat ada 52 kasus, Humbahas ada 47 kasus, Samosir ada 112 kasus, Serdang Bedagai ada 107 kasus dan satu orang meninggal, Kabuhan Baru Selatan ada 104 kasus dan 4 orang meninggal.

“Padahal di 2015 daerah KLB di Sumut hanya tiga kabupaten/ kota saja yaitu Pematang Siantar ada 168 kasus dan 3 meninggal, Sibolga ada 141 kasus dan seorang meninggal serta Sergai ada 83 kasus,” jelasnya, Selasa (6/12/2016).

Menurut Hikmet suatu daerah dikatakan KLB kasus DBD ketika terjadi penigkatan hingga tiga kali lipat jumlah kejadian kesakitan maupun kematian di masa waktu tertentu.

“Misalnya di bulan sebelumnya hanya ada 5 kasus, tiba-tiba bulan selanjutnya ada peningkatan kasus hingga tiga kali lipat, itu disebut KLB. Selain itu, kalau selama ini tidak ada kasus kematian, tapi tiba-tiba ada yang meninggal satu orang saja, itu juga KLB,” terangnya.

Menurutnya ketika terjadi KLB di daerah, maka harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi 1 × 24 jam. Dinas kesehatan setempat juga harus melakukan penyelidikan epidemologi. Artinya harus dicari apa sebenarnya yang memicu kasus itu meningkat.

“Kenapa bisa ada yang meninggal, padahal selama ini tidak, sumbernya dari mana, bagaimana kondisi daerah itu. Lalu kita tanyakan apa yang bakal dilakukan dinas kesehatan setempat. Ketika kita rasa cocok, maka kita tidak perlu ke sana. Tapi kalau kasusnya berat, kita siapkan tim ke daerah itu,” jelasnya.

Guna menuntaskan kasus DBD, lanjutnya, maka langkah yang paling efektif adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Wadah-wadah terbuka harus dikubur agar tidak bisa menampung air. Sedangkan upaya terakhir adalah dengan melakukan fogging.

“Wadah itu kita buat tidak bisa menampung air. Karena nyamuk DBD hidup di air bersih dan tergenang. Yang paling baik penuntasan DBD adalah pemberantasan sarang nyamuk, bukan nyamuknya. Ketika suatu tempat KLB, maka segera difogging. Fogging kalau dosis tidak tepat, nyamuk makin lama resisten,” terangnya.

Permasalahan DBD, kata Hikmet, bukan hanya menjadi tanggungjawab dinas kesehatan, melainkan seluruh kelompok lapisan masyarakat. Selain itu, harus ada gerakan masyarakat agar mau melakukan pemberantasan sarang nyamuk yang jauh lebih mudah dan murah.

“Sebenarnya mencegah DBD ini tidak perlu biaya mahal. Cukup kita rajin membersihkan air tergenang atau menguras bak mandi. Jika tiap-tiap rumah melakukan itu, maka tinggal instansi yang berjalan. Itulah sebenarnya langkah efektif menanggulangi DBD. Bukan dengan fogging, karena fogging ini hanya semacam pemadam kebakaran saja,” bebernya.

(Fidel)

Berikan Komentar