Kualitas Kependudukan Indonesia Masih Rendah

oleh -202 views

garudaonline – Medan | Deputi Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Wendy Hartanto mengungkapkan, bahwasanya kualitas kependudukan Indonesia saat ini masih sangat begitu rendah. Bahkan, dari sejumlah negara-negara yang ada, Indonesia hanya menempati posisi ke 110 mengenai kualitas kependudukannya.

Malah, untuk di Asia Tenggara sendiri, kualitas kependudukan Indonesia sebut Wendy hanya menempati posisi ke 5 dibawah Negara seperti Singapura maupun Malaysia. Begitupun Vietnam ujar dia, yang berada di bawah Indonesia, kini kemajuan kualitas kependudukannya sudah hampir melampaui.

“Kualitas kependudukan kita hanya di peringkat 110. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara sekitar, kita masih cukup rendah,” ungkapnya usai pertemuan Desiminasi Hasil Kajian Analisis Dampak Kependudukan di Aula BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Kamis (1/12/2016).

Wendy menjelaskan, karena rendahnya kualitas kependudukan ini, tentu mengakibatkan ledakan penduduk apalagi bila dibarengi dengan tingginya jumlah penduduk. Sehingga, sejumlah persoalan sosial seperti pendidikan dan kesehatan yang diharapkan pemerintah menjadi sulit untuk tercapai.

Selain itu, sambung dia, ledakan penduduk juga mengakibatkan sejumlah bencana alam yang justru sangat membahyakan penduduk itu sendiri. Selain itu, dengan tingginya jumlah penduduk, namun tanpa kualitas hanya akan menyebabkan bangsa Indonesia hanya menjadi pekerja kasar apabila bekerja di luar negeri.

“Sebetulnya tingginya jumlah penduduk jika di imbangi dengan kemampuan manajemen pemerintah yang seimbang, ledakan penduduk tidak akan terjadi. Seperti Amerika yang penduduknya banyak, namun karena berkualitas justru mereka bisa menerima warga Negara asing untuk masuk dan bekerja disana,” jelasnya.

Wendy mengatakan, tingginya jumlah penduduk dikarenakan angka kelahiran masih tergolong tinggi. Meski, tambah dia, bila dibandingkan tahun 1970-an, angka kelahiran penduduk cukup berhasil ditekan.

“Dulu jumlah anak 5 sampai 6 baru memutuskan untuk KB, tapi sekarang, 2 atau 3 jumlah anak sudah cukup. Memang sekarang untuk pengendalian cukup berhasil, namun dalam tumbuh penduduk belum seimbang,” pungkasnya. (Fidel)

Berikan Komentar