Pengidap HIV/AIDS di Sumut Capai 8.112 Kasus

oleh -178 views

garudaonline – Medan | Setiap 1 Desember, diperingati hari Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) guna mengkampanyekan pencegahan dan penularannya. Namun, virus ini masih sulit ditekan, bahkan cenderung mengalami peningkatan.

Manager Proyek Global Fund Dinas Kesehatan Sumut Andi Ilham, Kamis (1/12/2016) mengatakan dari Tahun 1994 hingga September 2016 jumlah total pengidap HIV/AIDS di Sumut mencapai 8.112 kasus di mana ada 3.301 kasus HIV dan 4.811 kasus AIDS.

“Sedangkan faktor penularan paling tinggi dalam kasus HIV/AIDS ini adalah melalui heteroseksual mencapai 6.394 kasus, disusul intra drug user mencapai 1.153 kasus, kemudian narkoba jarum suntik ada 141 kasus, lalu homoseksual ada 130 kasus,” jelas Andi, Kamis (1/12/2016).

Tak hanya itu, faktor kelima paling tinggi adalah penularan dari ibu ke bayi sebanyak 107 kasus, transfusi darah mencapai 78 kasus, ibu rumah tangga 55 kasus, biseksual ada 48 kasus, dan lain-lain 6 kasus.

“Sedangkan pengidap HIV/AIDS paling banyak adalah laki-laki dibanding perempuan. Karena laki-laki lebih banyak tertular melalui penggunaan jarum suntik dan berhubungan seksual,” urainya.

Andi menambahkan di Sumut ada 106 layanan VCT (Voluntary Counseling Test) baik puskesmas maupun rumah sakit. Karena itu ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) sudah bisa mendapatkan obat ARV (Antiretroviral) di puskesmas.

“Ketersediaan, ARV dijamin melalui APBD. Jadi obatnya gratis. Kalau minum obat, harapan hidupnya tinggi. Jadi perlu kepatuhan minum obat sehingga kekebalan tubuhnya meningkat,” bebernya.

Sementara itu, Plh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumatera Utara (Sumut) Ahmad Ramadhan mengatakan setiap bulannya, kasus HIV/AIDS di Sumut, cenderung mengalami peningkatan.

“Dominan berlaku bagi mereka yang berada di usia produktif. Pengidap HIV/AIDS umumnya berada dalam rentang usia 12 hingga 40 tahun. Penularan yang terjadi, didominasi akibat perilaku seks bebas dan juga penyalahgunaan narkoba. Tapi berkaitan dengan itu, faktor yang sangat mempengaruhi penularannya adalah perilaku Lelaki Suka Lelaki (LSL),” jelas Ramadhan.

Ramadhan mengakui, memang selama ini, penanggulangan penyakit HIV/AIDS yang sudah dilakukan, kualitasnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Adapun upaya-upaya pencegahan yang sudah dilangsungkan selama ini, ujar dia, dianggap belum cukup.

“Sehingga, target-target yang diharapkan tidak tercapai dengan baik. Apalagi dana yang dimiliki untuk penanggulangan HIV/AIDS ini sangat terbatas. Sehingga butuh perhatian yang lebih dari pemerintah. Upaya penanggulangan HIV/AIDS khususnya di Sumut, memang yang menjadi salah satu hambatan adalah masalah anggaran,” pungkasnya. (Fidel)

Berikan Komentar