Polrestabes Medan Siap Proses Pengaduan Korban Dimas Kanjeng

oleh -560 views

garudaonline – Medan | Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Medan, Kombes Pol Mardiaz Khusin Dwihananto mengharapkan warga Medan yang menjadi korban penipuan penggandaan uang oleh Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, sebaiknya membuat laporan pengaduan.

“Kita akan menerima laporan dan memproses tindak lanjut pengaduan di antara warga yang menjadi korban penipuan Dimas Kanjeng. Tidak perlu takut maupun malu saat membuat laporan pengaduan,” ujar Mardiaz Khusin Dwihananto di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Minggu (9/10).

Mardiaz mengatakan, kasus penipuan Dimas Kanjeng yang saat ini diproses kepolisian, sebaiknya dijadikan pelajaran berharga oleh masyarakat. Jangan sampai, kata dia, masyarakat mempercayai orang tertentu maupun paranormal yang bisa melakukan penggandaan uang tersebut.

“Sampai sejauh ini, memang belum ada laporan pengaduan dari masyarakat yang menjadi korban penipuan Dimas Kanjeng. Kemungkinan ada korban namun malu jika membuat pengaduan. Seharusnya, tidak perlu malu jika sudah menjadi korban. Kita minta masyarakat supaya jangan lagi mempercayai penggandaan uang itu,” sebutnya.

Muncul Lagi
Sementara itu, Julistiono (40) warga Jalan Kedurus Surabaya dan Dimas Maulana (32) asal Jalan Simo Tambaan Surabaya diringkus anggota unit reserse Kriminal Polsek Sawahan, Surabaya karena melakukan penipuan berkedok bisa datangkan emas secara gaib.

Yang menjadi korban penipuan adalah Rachmad Efendi dan istrinya Supinah. Kepada korbannya Julistino atau Yono mengaku bergelar Gus dan memiliki ilmu makrifat dan bisa mendatangkan emas secara gaib dan korbannya dijanjikan satu peti emas.

Untuk membuat korbannya percaya, Yono berpura-pura membuktikan dengan cara melakukan ritual di salah satu ruangan. Ia menggunakan kembang dan kain putih, selanjutnya kembang itu ditutup menggunakan kain putih.

Setelah beberapa lama, pelaku memanggil korbannya Rahmad dan menunjukkan kain putih yang sudah berisi emas. Kemudian emas itu diminta agar dijual dan sempat ditawar dengan harga Rp. 2.525.000 oleh pedagang emas di Blauran. Yono pun menjanjikan emas yang lebih banyak kepada korbannya, namun korban harus menyiapkan uang tunai sebesar Rp30 juta.

Menurutnya akan digunakan untuk membeli alat -alat ritual. Tetapi korbannya baru bisa membayar Rp15 juta. Kapolsek Sawahan Surabaya, Kompol Yulianto membenarkan kejadian itu. Menurutnya setelah korban membayar lunas uang yang diminta pelaku ternyata emas yang diberikan oleh pelaku adalah emas palsu, yang dibeli di Ploso.

“Akhirnya dilakukan penangkapan terhadap pelaku oleh Unit Reskrim. Ternyata yang diakuinya emas batangan tersebut dibeli oleh pelaku didaerah Ploso seharga Rp.13.000 perbiji,” ungkapnya, Minggu (9/10/2016). Saat diperiksa, Yono mengaku nekat melakukan penipuan tersebut karena terdesak kebutuhan ekonomi. Sehingga Yulianto pun menghimbau agar warga tidak mudah percaya dengan hal-hal tersebut.(Sp/Iwan/OK)

Berikan Komentar