Mendagri Jadi Pembicara Utama Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan di Medan

oleh -909 views
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tjahjo Kumolo

garudaonline – Medan | Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tjahjo Kumolo menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan di Universitas Khatolik Santo Thomas, Jalan Setia Budi, Medan, Sabtu (16/9/2017).

Seminar dengan tema Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Pendidikan-Pendidikan Nasional ini dihadiri Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution dan menghadirkan narasumber lain di antaranya Ketua Umum PBNU Prof DR KH Said Agil Sirodj MA, Menteri ESDM Ignatius Jonan, Yudi Latief, PhD dari UKP-PIP, serta Ketua Yayasan Santo Thomas DR Cosmas Batubara.

Mendagri Tjahjo Kumolo sebagai keynote speaker dalam seminar nasional tersebut memaparkan kondisi-kondisi yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.

“Ada banyak tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, termasuk ketimpangan sosial dimana-mana, kesehatan dan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan serta papan,” ujarnya.

Namun menurutnya, ada hal yang lebih penting untuk segera dihadapi dan dituntaskan, yaitu narkoba, korupsi, radikalisme, serta terorisme.

Tren angka korupsi oleh pejabat di tingkat pemerintahan daerah dalam 10 tahun terakhir meningkat tinggi. Belum lagi permasalahan paham radikalisme dan terorisme yang muncul di Indonesia.

Persoalan paham radikalisme dan terorisme yang selama ini menjadi permasalahan pelik di Indonesia, kata Tjahjo, bukanlah serta merta hanya jadi tanggung jawab TNI, Polri semata, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia.

“Indonesia dengan kemajemukannya justru menjadi kekuatan tersendiri dalam menangkal semua paham-paham radikalisme dan terorisme yang coba merusak negara ini. Ingat, tanpa kemajemukan dan tanpa kebhinekaan, bangsa Indonesia tidak ada apa-apanya,” tegasnya.

Untuk menangkal itu semua, Mendagri mengingatkan antara pemerintah dan masyarakat harus terjalin hubungan komunikasi yang erat dan sepaham dalam menjaga keutuhan NKRI.

“Apabila berjalan beriringan dalam satu Idiologi Pancasila, niscaya paham-paham radikalisme itu akan hilang dengan sendirinya,” sambungnya.

Kepada mahasiswa Unika Santo Thomas, dirinya berpesan agar mereka dapat memanfaatkan waktu belajar yang singkat dengan sebaik mungkin, karena setelahnya mahasiswa ini harus mampu segera turun ke masyarakat, mengorganisir untuk memajukan pola pikir masyarakat dalam mendukung kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

“Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno: setiap manusia harus mempunyai imajinasi-imajinasi, persepsi-persepsi agar dapat melaksanakan persepsi itu,” ujarnya pada akhir sambutanya.

Hadir dalam seminar tersebut Anggota DPD RI, Parlindungan Purba, Gubernur Sumatera Utara T Ery Nuradi, Ketua Yayasan Santo Thomas Dr Cosmas Batubara, Rektor Unika Santo Thomas, Dr Frietz Tambunan.

Kegiatan diakhiri dengan pemukulan gong pembuka acara, penyerahan cendera mata dan penyematan kain Ulos kepada Mendagri, dilanjutkan dengan foto bersama dengan civitas akademik.

(rel/iwan)

Berikan Komentar